Warga Aceh Utara Lestarikan Tradisi Top Teupong dengan Jeungki

ACEH UTARA- Bagi sebagian masyarakat Aceh saat ini tidak begitu mengenal dengan alat tradisional yang satu ini. Alat yang digunakan untuk menumbuk padi supaya menjadi beras dan juga menumbuk beras untuk menjadi tepung, ini menjadi bagian dari kehidupan orang Aceh sebelum adanya teknologi canggih seperti saat ini.

Jingki atau jeungki adalah sebuah alat tradisional yang terbuat dari kayu pilihan yang terdapat di hutan Aceh, dan digunakan untuk menumbuk atau dengan bahasa Aceh “Top Teupong” padi, beras, sagu dan sebagainya.

Puluhan tahun silam, jingki hampir didapatkan di setiap rumah orang Aceh. Fasilitas itu biasanya ramai digunakan saat menjelang bulan suci Ramdahan untuk mengolah tepung sebagai bahan kue pada waktu lebaran tiba. Namun seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Aceh yang memanfaatkan jingki sudah mulai berkurang, hanya sebagian warga di desa yang masih menggunakan alat tradisional tersebut.

Rupanya alat tradisional Aceh itu hingga kini masih digunakan warga di Desa Seulunyok, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, untuk menumbuk padi menjadi beras atau menumbuk beras menjadi tepung.

Ini didapatkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, yang sedang mengabdi di desa itu saat mengunjungi salah satu rumah warga setempat, Sabtu (5/8/2017).

Mahasiswa menjumpai warga yang juga pemilik jingki (Jeungki) di desa setempat, Muhammad basyah (64) bersama istrinya Ainun (61) turut berbincang dengan mereka di kediamannya.

“Kami sudah lama menggunakan jeungki ini, kurang lebih 25 tahun silam. Jeungki ini siapa saja boleh yang menggunakan, banyak warga disini memanfaatkan jeungki ini untuk mengolah tepung. Tetapi saya tidak meminta upah ataupun bayaran setelah warga memakai jeungki tersebut, kecuali mereka mengupah saya untuk menumbuk beras atau padi orang itu baru diminta upah,” ujar Muhammad basyah.

Menurut Ibu Ainun, banyak warga di desa itu lebih memilih mengolah tepung beras dengan cara menumbuk menggunakan jeungki, bila dibandingkan yang memanfaatkan alat yang lebih modern. Dengan alasan tepungnya lebih halus dan lebih banyak dari pada menggunakan alat modern, ataupun membeli tepung di pasar.

“Biasanya kami disini sering membuat kue timphan, keukarah, haleuwa, dodoi (dodol) serta beberapa jenis kue khas Aceh lainnya dengan tepung hasil olahan dari alat tradisional atau jeungki tersebut,” ungkap Ainun.

Lanjutnya, menggunakan alat ini memang tidak mudah, banyak menguras energi, mengeluarkan keringat dan lelah sudah pasti. Namun, dibalik rasa lelah saat menumbuk padi atau beras dengan jingki, ternyata tersimpan nilai sosial yang kental seperti kebersamaan antar sesama warga di desa.

“Untuk itu, kita berharap semoga tradisi orang Aceh ini akan tetap terlestarikan dengan baik hingga sampai kapan pun,” ujar Ainun.

Penulis: Humas KKN Kelompok 53, Kasnah Wati
Editor: Zielva