13 April 2018
redaksi pelita 8 (2698 articles)

Wabup Aceh Besar ; Tak Setuju Cambuk di LP

“Meunyoe Perlei Bek Ditepeu, Cambuk Lam Kama Mantong…”

Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk H Husaini A Wahab. Foto/IST

BANDA ACEH – Peraturan Gubernur Aceh Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Hukum Acara Jinayat yang baru saja dikeluarkan, telah menuai beragam reaksi dari kalangan masyarakat Aceh.

Sejumlah pihak menolak rencana pemindahan uqubat cambuk ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP) sebagaimana termaktub dalam Pergub Aceh tersebut.

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, berdalih, pemindahan pelaksanaan cambuk di dalam LP bertujuan agar uqubat bagi pelanggar syariat tidak lagi menjadi tontonan anak-anak dan direkam melalui telepon genggam atau kamera.

Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk H Husaini A Wahab atau yang akrab disapa Waled Husaini, ternyata tak sepakat dengan Pergub pemindahan pelaksanaan hukuman cambuk ke dalam LP.

“Aceh Besar akan duek rapat. Meunyoe loen selaku Wakil Bupati Aceh Besar tetap tulak, loen pelaksanaan cambuk tetap di lua, meuhan bek peuget phon kon,” katanya saat diwawancarai Serambinews.com, Jumat (13/4/2018).

Waled Husaini mengatakan, jika memang alasan pelaksanaan hukuman cambuk di tempat terbuka dan dihadiri banyak orang–seperti selama ini–ditakutkan berefek untuk Aceh dalam framing dunia luar, lebih baik hukuman cambuk dibuat tertutup saja.

“Meunyoe perlei bek ditepeu, cambuk lam kama mantong, kadang teumakot entek han dijak awak nyan keunoe, meunyoe gara-gara awak nyan tajak beh Allah nyan loen hana pakat,” kata Waled Husaini.

Dia menegaskan, hukum Islam jangan sampai diintervensi dari orang lain, pelaksanaan uqubat cambuk di Aceh menurutnya jangan dikait-kaitkan dengan hal-hal lain.

“Hukom tanyoe bek dijak uroh le ureung laen, awaknyan hana meufom ata tanyoe. Tanyoe ata awaknyan peugah hana beungoh uroe ka gabuek, meunyoe ata droe teuh peugah ka ta tulak-tulak,” katanya.

Dia juga merespons soal alasan pemindahan uqubat cambuk ke dalam LP karena untuk menghindari anak-anak agar tidak bisa melihat prosesi cambuk itu. Lagi-lagi, ulama dayah di Aceh Besar ini tak sepakat.

“Pakon man ngon cambuk, nyan film-film yang yee aneuk miet hana talarang lagoe. Bek na alasan yee aneuk miet, nyan film bak FB macam-macam hana talarang,” katanya.

Jika memang anak-anak nggak boleh menyaksikan kata Waled Husaini, lebih baik dibuat aturan jangan bawa anak kecil ke dalam arena prosesi cambuk tersebut.

“Bek ba aneuk miet meunyoe meunan,” katanya.

Terkait tidak sepakat dengan Pergub itu, apakah dirinya sudah membicarakan hal itu dengan Bupati Aceh Besar? Waled Husaini mengaku belum ada pembicaraan khusus.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan segera duduk membahas Pergub Nomor 5 Tahun 2018 tersebut.

“Hukom tanyoe bek sampe dicampu le gob. Iloen hana sepakat meunyoe syariat dijak gidong-gidong le gob,” pungkasnya. (*)

Sumber : Serambi

 

Comments

comments