14 Oktober 2018
redaksi pelita 8 (2860 articles)

Tas Motif Aceh Laris Terjual di Pertemuan IMF

Managing Director IMF Cristine Lagarde, melihat tas tradisional Aceh yang dipamerkan di stand BI Lhokseumawe pada acara pertemuan IMF di Nusa Dua Bali. Foto/Doc.Humas BI Lhokseumawe

BALI – Tas motif Aceh, hasil produksi kelompok usaha Syirkatun Nisa di bawah binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia, laris manis, di sela-sela pertemuan International Moneter Fund (IMF) di Nusa Dua, Bali.

Larisnya tas tradisional khas Aceh tersebut, diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe, Yufrizal kepada wartawan, Minggu (14/10).

Ia menyebut bahwa di tengah pertemuan yang membahas berbagai agenda penting itu, peserta dari berbagai delegasi menyempatkan diri bertandang ke stan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan BI Lhokseumawe.

“Mereka umumnya melihat-lihat tas produksi motif Aceh, produksi Syirkatun Nisa yang merupakan UMKM binaan BI LHOkseumawe. Mereka juga tertarik dengan tas tradisional khas Aceh yang memiliki keunikan tersendiri namun modis dalam segala suasana,” ujar Yufrizal.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe, Yufrizal.

Tas Aceh, lanjut dia, dengan berbagai bentuk dan ukuran serta motif yang menarik tersebut, mendapat tempat dihati para peserta yang bukan hanya dari Indonesia bahkan peserta dari luar negeri juga.

“Mereka bahkan membeli lebih dari satu, baik untuk dipakai sendiri maupun sebagai hadiah bagi keluarga di negerinya. Bahkan ada yang ingin membeli tas dengan model tertentu akan tetapi sudah habis terjual,” jelas Yufrizal lagi.

Lebih jauh ia mengatakan Managing Director IMF Christine Lagarde, juga menyempatkan diri mengunjungi stan binaan BI Lhokseumawe tersebut dan melihat-lihat berbagai jenis tas produksi kelompok usaha Syirkatun Nisa.

Sejumlah pengunjung sempat berpikir bahwa tas dengan bentuk dan motif tradisional tersebut, diproduksi oleh pengrajin di Bali. Akan tetapi setelah dijelaskan bahwa produksi tas tersebut berasal dari Aceh, sebuah provinsi paling barat Indonesia, mereka semakin kagum.

“Alhasil, dari 345 item barang yang dibawa dari Aceh, sampai hari ini hanya tersisa lima jenis saja, sedangkan yang lainnya semua habis terjual,” ujarnya.

Pertemuan Tahunan IMF dan Grup Bank Dunia yang digelar sejak 8-14 Oktober di Nusa Dua, Bali itu, dihadiri delegasi dari 189 negara dan lembaga-lembaga internasional digelar di Nusa Dua Bali, 8 -14 Oktober. (*)

Comments

comments