Pelita 8
Opini

REVOLUSI PENDIDIKAN NEGERI DI ATAS AWAN, MUNGKINKAH ?

Qustalani – Ketua IGI Aceh Utara

Indonesia merupakan salah satu negara bentangan pulau-pulau dan memiliki luas daratan sekitar 1.919.031,32 km2. Namun demikian pembangunan yang ada berbanding terbalik dengan banyaknya jumlah pulau yang dimiliki Indonesia. Hingga saat ini pembangunan masih terpusat di kota-kota besar baik di ibukota Kabupaten, Provinsi, ibu kota negara. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan hakikat dari pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang dilaksanakan merata di seluruh tanah air. Kesenjangan yang terjadi saat ini masih cukup tinggi baik dalam hal pembangunan infrastruktur, atau dalam hal pelayanan dasar seperti pendidikan, khususnya di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) (BPS, 2015).

UUD 45 telah menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh penghidupan dan pendidikan yang layak. Pasal tersebut menyiratkan bahwa tidak ada perbedaan pendidikan bagi setiap warga Indonesia, baik di kota mauoun di desa. Anak-anak Indonesia wajib belajar 12 Tahun, dibiayai oleh negara dan mendapatkan perlakuan yang adil dalam memperoleh pendidikan. Namun, kenyataan yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang sudah diamanatkan UUD 45. Pembangunan sekolah, tenaga pendidik, dan infrastruktur lainnya jelas ada kesenjangangan. Kondisi pendidikan di sekolah daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) contohnya, masih kurang memadai baik dari segi sarana maupun prasarana belajar serta kurangnya jumlah guru yang mengajar. Kesenjangan pendidikan yang terjadi masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan kondisi di sekolah perkotaan (Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005).

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan erat dengan kualitas sumberdaya manusia yang akan dibentuk. Semakin tinggi mutu pendidikan, maka kualitas sumberdaya manusia akan menjadi lebih baik. Peningkatan mutu pendidikan di daerah terpencil sangat diperlukan guna mencari bakat-bakat yang dimiliki oleh putra daerah agar dapat terasah sehingga mereka dapat ikut serta dalam membangun negeri ini. Selain daripada itu, peningkatan mutu pendidikan di daerah perbatasan pun perlu mendapat perhatian yang besar karena hal ini akan berkaitan dengan intergritas bangsa, jangan sampai anak-anak disana kelak lebih memilih pindah warga karena mereka merasa negara tersebut lebih bisa menjamin kehidupannya dibandingkan negaranya sendiri.

Riza (2012), menyebutkan salah satu permasalahan di daerah terpencil adalah kekurangan tenaga pendidik dan infrastruktur yang ada. Guru harus mangatur sedemikian rupa waktu yang ada untuk bisa memenuhi jam mengajar di kelas-kelas lain dan juga guru harus memutar otak untuk mengajarkan peserta didik dengan bahan yang serba terbatas, ada salah satu sekolah di pinggir Aceh Utara. Sekolah tersebut terletak di perbatasan Aceh Utara dan Bener Meriah. Sekolah yang memiliki jarak 100 KM dari pusat kota tersebut luput dari perhatian pemerintah. Peserta didik yang ada juga terbatas karena kurang berminatnya mereka untuk mengenyam pendidikan.
Pemangku kebijakan dan para pemerhati pendidikan harus membuat terobosan-terobosa terbaru untuk memberikan akses pendidikan yang sama kepada anak-anak pinggiran tersebut. Daerah yang biasanya terpinggirkan atau daerah di atas awan, karena rata-rata daerah terpencil berada di pegunungan dengan jalan yang begitu sulit. Revolusi terhadap akses pendidikan sangat penting. Sekolah yang serba terbatas infrastrukturnya tersebut membuat guru harus kreatif memilih model pembelajaran yang sesuai untuk diajarkan pada anak-anak daerah terpencil.

Kondisi Pendidikan 3T
(1) Sarpras yang kurang memadai, menjalankan proses pendidikan di daerah terpencil mungkin akan menjadi terkendala karena guru, staff maupun murid, susah menuju sekolah. Ada beberapa daerah yang apabila ke sekolah maka para siswanya harus menyeberangi sungai terlebih dahulu, dan tidak ada kendaraan yang memfasilitasi kebutuhan transportasi tersebut. Atau letak sekolah yang sangat terpencil sehingga tidak banyak orang yang tahu jalan menuju ke sana. Hal ini bisa dilihat dari beberapa berita yang menyebutkan masih ada anak-anak yang harus bertaruh nyawa dengan menyeberang jembatan dari seutas tali hanya demi mendapatkan pendidikan. Kondisi jalan yang belum adanya pengerasan apalagi aspal, berdebu disaat kering dan berlumpur disaat hujan, malah tak bisa dilintasi ketika hujan seharian penuh. Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah James Modouw mengatakan, persoalan akses masih menjadi poin utama tidak meratanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil. Menurut James, anak-anak yang ingin merasakan dunia pendidikan harus menempuh jarak yang jauh untuk sampai ke sekolah. Kondisi jalannya pun berat (Kompas, 2017).

Selain itu, fasilitas pendukung belajar seperti buku-buku sumber dan saranan lain seperti laboratorium dan arus listrik yang mendukung kegiatan pembelajaran belum dimiliki oleh sekolah. Anak-anak yang bersekolah di daerah terpencil harus rela belajar dengan fasilitas yang sangat minim dan keadaan yang tidak kondusif untuk belajar. Misalnya saja, papan tulis yang digunakan masih blackboard yang masih menggunakan kapur. Itu pun dengan keadaan papan yang sudah rusak atau persediaan kapur yang sangat terbatas. Sekolah-sekolah tersebut jangankan memiliki laboratorium beserta peralatannya, perpustakaan, dan fasilitas lain yang seharusnya dimiliki oleh sebuah sekolah, ruangan belajarnya saja masih jauh dari kata layak. Kamar mandinya saja tidak ada, kalaupun ada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Sebut saja salah satu sekolah di daerah pedalaman Aceh Utara, dimana guru memprotes karena tidak adanya sumur maupun WC di sekolah tersebut yang berakibat siswa harus pulang dan tak kembali untuk belajar (Tribunnews, 2015). Kondisi seperti ini sebenarnya tidaklah layak untuk proses belajar-mengajar. Miris memang, apalagi itu bukan barang langka di negeri syariah dengan dana otsus berlimpah ruah.

(2) Pembiayaan Pendidikan, penduduk daerah terpencil biasanya telah membiasakan anak-anak mereka untuk bekerja sejak usia dini, untuk membantu pekerjaan orang tuanya. Hal ini dikarenakan keterbatasan materi yang mereka miliki, atau dengan kata lain karena perekonomian keluarga di daerah yang sangat terbatas. Maka akan sulit menyarankan atau membujuk para orang tua di daerah terpencil untuk menyekolahkan anak-anaknya. Apabila mereka memutuskan untuk menyekolahkan anak mereka, maka mereka akan harus menyiapkan uang untuk membayar biaya sekolah.
Padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, terlebih apabila anak mereka sekolah. Hal tersebut akan menyebabkan pendapatan mereka dalam sehari pun menjadi kurang. Oleh sebab itu, mereka enggan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai, karena sekolah yang fasilitasnya memadai cenderung biaya sekolahnya mahal bagi mereka. Ekonomi keluarga menjadi penghalang utama bagi anak-anak untuk fokus belajar dan meraih cita-cita. Hanya sebagian kecil yang punya keinginan kuat untuk belajar sambil bekerja, kebanyakan mereka hanya sekolah sebagai pelengkap saja dan bekerja serabutan membantu ekonomi kelurga yang utama.

(3) Kurikulum yang Tidak Relevan, sekarang ini, banyak sekolah yang mulai menerapkan kurikulum baru, yaitu kurikulum 2013. Namun, beberapa sekolah terpencil yang masih menerapkan kurikulum KTSP saja masih terdapat ketidaksesuaian dengan mekanisme dan proses yang di standarkan. Terlebih jika kurikulum 2013 benar akan di terapkan pada sekolah yang terpencil. Mereka akan mengalami kesulitan dalam mengikuti penerapan kurikulum 2013. Dalam penerapan kurikulum, tidak terlepas dari peran guru yang mengajar. Namun, di daerah yang terpencil guru -guru hanya berbuat sebatas apa yang mereka tahu, tanpa mengikuti panduan yang berlaku umum. Jadi, yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kurikulum yang ada.

(4) Guru yang belum profesional, dalam pendidikan guru merupakan salah satu komponennya. Oleh sebab itu peran guru sangat berpengaruh dalam kualitas pendidikan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak para guru yang enggan mengajar di daerah terpencil dengan beragam alasan. Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan para guru untuk mengajar di daerah terpencil adalah letak sekolah yang sulit dijangkau. Guru yang ada hanya lulusan SMA dan berstatus honor sekolah dengan gaji masih jauh dari layak. Guru yang mengajar harus ekstra kreatif dalam mengajar yang baik dengan sarpras yang serba terbatas. Distribusi guru yang mumpuni dan berstatus PNS masih sangat tidak ideal, tidak semua guru bersedia ditempatkan di daerah terpencil walaupun mereka diganjar dengan tunjangan khusus. Prestise akan paradigma bahwa guru terpencil kalah gengsi dengan guru kota menjadi salah satu permasalahan yang ada.

Solusi dan Revolusi Pendidikan 3 T
Pemerintah tidak bisa menutup mata akan persoalan yang seakan-akan sudah menjadi pembiaran oleh pemerintah itu sendiri. Persoalan pendidikan bukan hal utama yang diselesaikan oleh pemangku jabatan yang ada, hal ini bisa dilihat dari visi misi setiap calon bupati maupun gubernur yang ada haya sedikit saja yang menyentuh pendidikan. Persoalan pendidikan di daerah 3T hanya terucap dibibir saja saat membeli suara rakyat setiap lima tahun sekali. Persoalan tersebut layak angin lalu dan suara dentuman gemuruh disaat hujan akan hilang saat panas menerpa. Walaupun demikian penulis beranggapan sudah saatnya semua stakeholder bergerak melakukan revolusi terhadap permasalahan ini. Penulis akan menyajikan solusi konkrit bukan hanya retorika belaka, diantaranya yaitu: (1) Terkait akses jalan yang terbatas, disini semua harus berperan mulai dari desa sampai ke pusat kota. Desa harus membuat laporan yang konkret dalam musrenbang terhadap kebutuhan akses jalan menuju pusat belajar dan pemerintah harus mempriorotaskan akan hal tersebut. Jembatan yang biayanya kecil bisa ditanggulangi melalui penggunaan dana desa, akses yang besar bisa dikawal melalui dana APBK dan pemerintah harus serius memperhatikannya. (2) Tenaga Pengajar yang layak, pemerintah bisa merekrut fresh graduate lulusan perguruan tinggi ternama di Aceh. Para alumni PT di seleksi ketat dan diberikan honor yang layak. Sudah saatnya pemerintah mencontoh beberapa gerakan relawan pendidikan yang ada di beberapa daerah di Indonesia, dengan membentuk sebuah wadah pendidikan yang diisi oleh relawan pendidikan di daerah terpencil. Wadah yang terorganinisir di motori oleh tim penggerak pendidikan dan didukung oleh beberapa kebijakan di daerah. Contoh yang ada Tulang Bawang Barat Cerdas di Lampung, SOKOLA di Makassar dan ada beberapa wadah relawan pendidikan lainnya di beberapa daerah Indonesia. Perekrutan juga bisa dimulai dari pemberian beasiswa pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil untuk menjadi guru dan mengabdi di tanah kelahirannya nantinya. Seleksi yang objektif juga harus diutamakan untuk mensukseskan pendidikan yang layak dan bermartabat. (3) Kurikulum yang tidak relevan bisa diatasi dengan mengirimkan guru-guru daerah terpencil untuk belajar dan magang di sekolah-sekolah rujukan daerah maupun nasional. Penulis menawarkan sebuah program pertukaran guru selama satu tahun. Guru daerah terpencil magang di sekolah favorit untuk memantapkan ilmu profesionalnya dan guru di sekolah favorit magang di sekolah terpencil untuk memantapkan ilmu pedagogiknya. Lulusan dari magang tersebut diharapkan dapat menutupi dari setiap kekurangan ilmu yang dimilikinya selama ini.

Pendidikan yang layak menjadi dambaan setiap insan dimuka bumi ini. Semua manusia menginkan yang sempurna dan itu juga telah diamanahkan oleh UU 4. Kita sebagai makhluk Tuhan yang berakal sudah saatnya berfikir demi kemaslahatan bersama. Pendidikan bukanlah tanggungjawab segelintir orang, namun pemangku kebijakan jangan mempelintir pendidikan demi nafsu dan kepentingan sesaat. Stakeholder bangkit bersatu demi warisan pendidikan anak cucu, anak Aceh bisa berdiri tegak membusungkan dada bahwa kami adalah negeri beradab. Semoga!

Penulis : Qusthalani, M.Pd
Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Aceh Utara
Guru SMAN 1 Matangkuli

Comments

comments

Related posts

“Alam Peudeung” Simbol Pemersatu Dimasa Kejayaan Aceh

redaksi pelita 8

Inventorku Tak Seberuntung “Si Listrik Kedondong”

redaksi pelita 8

Antara Tasawuf dan Jihad

redaksi pelita 8