25 Februari 2019
redaksi pelita 8 (3124 articles)

PT PIM Beli Pabrik AAF Rp 624 Miliar

Direktur Utama PIM, Husni Achmad Zaki didampingi Direktur Produksi, Teknik dan Pengembangan Pranowo Tri Nusantoro, Direktur Komersil Rochan Syamsul Hadi, Direktur Umum & SDM Usni Syafrizal menyampaikan soal pembelian aset Pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF) pada pres conference bersama rekan Jurnalis dalam rangka HUT ke-37 PT PIM di Ruang Rapat Keupula, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Senin (25/2/2019). Pelita8/Rahmat Mirza

ACEH UTARA – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mulai mengembangkan nilai investasi dengan membeli Pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF) pada 31 Desember 2018 lalu senilai Rp 624 miliar.

Pembelian itu termasuk kompleks pabrik dan 105 unit perumahan karyawan. Nilai Objek Jual Pajak (NJOP) dengan luas areal 230 hektare yang terdiri areal pabrik, pelabuhan, dan perumahan. Untuk perumahan, kami beli 105 unit dari 349 rumah yang ada. Sedangkan 244 unit sudah dijual sebelumnya oleh likuidator lama kepada eks karyawan tidak termasuk yang dibeli PIM.

“Rencana kita akan aktifkan pabrik H2O2 (hidrogen peroksida) yang masih memiliki nilai pasar dan dua tangki amonia ek PT AAF. Pembelian itu diharapkan menunjang langkah bisnis perusahaan ke depan, kita mulai tahun 2019 ini,” hal itu disampaikan Direktur Utama PIM, Husni Achmad Zaki pada pres conference bersama rekan Jurnalis dalam rangka HUT ke-37 PT PIM di Ruang Rapat Keupula, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Senin (25/2/2019).


Pres Conference bersama rekan Jurnalis di Ruang Rapat Keupula, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Senin (25/2/2019).

Husni Achmad Zaki didampingi Direktur Produksi Teknik & Pengembangan, Pranowo Tri Nusantoro, Direktur Komersil Rochan Syamsul Hadi dan Direktur SDM & Umum Usni Syafrizal, serta para General Manager (GM) PIM lainnya.

Selain itu, dalam waktu dekat PIM juga akan membangun Pabrik Nitrogen Phospor dan Kalium (NPK) dengan nilai investasi Rp 1 triliun.

Sebagai perusahaan pupuk dan petrokimia yang kompetitif dimasa mendatang, PT PIM melakukan pengembangan perusahaan, salah satunya adalah dengan membangun pabrik NPK.

Jika PT PIM terus berkembang dan maju, akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh, serta produksi pertanian akan selalu terjaga, kebutuhan pangan terjamin.

Secara multiplier efect, apabila PIM terus berkembang dan maju maka akan tercipta perputaran ekonomi diwilayah sekitar PIM. Berbagai bisnis dan usaha masyarakat akan terus tumbuh dan berkembang.


Direktur Utama PT PIM, Husni Achmad Zaki.

“Jika dulu ada anggapan lampu semakin meredup di Krueng Geukueh seiring berhentinya industri, ke depan kami ingin menyalakan lampu itu lagi,” pungkas Zaki.

Sekadar informasi, komposisi kepemilikan awal AAF adalah pemerintah Indonesia yang diwakili PT Pupuk Sriwidjaya (60 persen), Thailand yang diwakili Departemen Keuangannya (13 persen).

Kemudian Malaysia yang diwakili Petronas (13 persen), Filipina diwakili oleh National Fertilizer Corporation of Philippine (13 persen), dan Singapura diwakili oleh Temasek Holding Pte Ltd (1 persen).

AAF berhenti beroperasi sejak tahun 2003 seiring kendala bahan baku gas untuk memproduksi pupuk urea. (*)

Comments

comments

makan jeruk