31 Januari 2018
redaksi pelita 8 (2493 articles)

Pramugari Saat Mendarat di Bandara SIM Wajib Berjilbab

Para pramugari untuk mengenakan pakaian muslimah jika mendarat di Aceh, sesuai dengan aturan yang berlaku di Aceh. Foto/IST

BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengeluarkan selembar surat berisikan aturan wajib berpakaian muslimah bagi pramugari semua maskapai yang mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar.

Surat bernomor 451/65/2018 dan bertanggal 18 Januari 2018 itu ditandangani Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali, dan ditembuskan kepada Gubernur Aceh, DPRA, Dinas Syariat Islam, dan beberapa pihak lainnya. Surat itu ditujukan kepada pimpinan delapan maskapai yang melayani rute Aceh, yakni kepada GM Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Citilink, Sriwijaya Air, Wings Air, AirAsia, dan Firefly.

“Kepada semua pramugari diwajibkan mengenakan jilbab/busana muslimah yang sesuai dengan aturan syariat Islam,” demikian bunyi salah satu poin penekanan dalam surat tersebut.

Dalam surat itu disebutkan, landasan Pemerintah Aceh Besar mengimbau para pramugari untuk mengenakan pakaian muslimah jika mendarat di Aceh, sesuai dengan aturan yang berlaku di Aceh. Dalam hal ini adalah ketentuan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Selain itu, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh. Dari dua point di atas, maka dipandang perlu untuk mensinergikan sekaligus dukungan serta kerja sama untuk mencegah segala tindakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam, adat istiadat, dan etika masyarakat Aceh.

Oleh karena itu, dimintakan kepada seluruh maskapai penerbangan yang memasuki wilayah Aceh Besar, agar melakukan beberapa hal. Pertama, menaati segala peraturan dan undang-undang syariat Islam yang berlaku di wilayah Aceh secara umum dan Aceh Besar secara Khusus. Kedua, kepada pramugari diwajibkan mengenakan jilbab/busana muslimah yang sesuai dengan aturan Syariat Islam. Terakhir, Kepada semua pihak supaya dapat bekerjasama dan mendukung pelaksanaan syariat Islam di wilayah Kabupaten Aceh Besar.

Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali yang dikonfirmasi Serambi kemarin, membenarkan surat tersebut. Ia mengatakan, imbauan itu semata-mata sebagai upayanya dalam menjalankan syariat Islam yang berlaku di Aceh, khususya di Aceh Besar. “Iya benar, itu surat imbauan yang kita keluarkan,” katanya.

Karena Aceh menerapkan syariat Islam, kata Mawardi, semua orang diharapkan untuk berbusana syar’i sesuai tuntutan agama Islam. Bukan hanya masyarakat Aceh, tapi setidaknya, semua yang datang ke Aceh bisa menghargai peraturan yang berlaku. “Kita lihat di dalam pesawat yang mau ke Aceh, pakaian (pramugarinya) dibelah-belah sampai ke pinggul, ini kan tidak cocok,” katanya.

Belum lagi, di dalam pesawat yang rutenya ke Aceh itu, kadang-kadang ada ulama, dan lebih-lebih ada anak-anak. “Banyak generasi kita di dalam pesawat, jangan sampai setelah mereka melihat itu, kemudian mereka mencontoh gaya pramugari tersebut. Kita harapkan, dengan aturan ini, masyarakat luar semakin senang ke Aceh, karena pramugarinya cantik-cantik mengenakan jilbab,” kata Mawardi Ali.

Terkait surat edaran Bupati Aceh Besar itu seluruh pimpinan maskapai yang ada di Aceh memberi apresiasi dan dukungannya. Corporate Communication Lion Air Group, Ramaditya Handoko, yang dikonfirmasi Serambi, Selasa (30/1), terkait pemakaian busana muslimah bagi pramugari, menyampaikan pihaknya menghormati dan mendukung segala aturan yang ada, baik itu aturan regulator yaitu Kemenhub maupun aturan daerah setempat.

“Kami siap menjalankan aturan syariah yang diberikan kepada awak kabin kami untuk berjilbab. Terutama dengan destinasi tujuan dari dan ke Banda Aceh agar visi, dan misi pemerintah daerah berjalan sehingga tercipta kesinergian yang baik,” kata Ramaditya Handoko.

Tia Khairunnisa, pramugari berhijab pada maskapai Citilink, sesaat setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, pada Rabu, 31 Januari 2018. Foto : VIVA/Dani Randi

Sebagai in formasi, tambahnya, maskapai Lion Air Group yang beroperasi di Aceh adalah Lion air dan Batik Air. “Batik Air sudah menerapkan (berjilbab-red), sedangkan Lion Air sedang proses teknis untuk hal itu, secepatnya akan terlaksana,” ujarnya.

Sementara General Manager Garuda Indonesia Banda Aceh, Sugiyono, yang dikonfirmasi secara terpisah menyampaikan pihaknya sudah menerima surat dari Bupati Aceh Besar terkait pramugari wajib berjilbab saat mendarat di Aceh. “Sudah terima dan sudah kita teruskan ke manajemen pusat. Tunggu arahan,” ujarnya.

Dikatakan, pada prisipnya Garuda Indonesia siap mendukung dan melaksanakan Qanun pesawat yang masuk ke Aceh pramugarinya berjilbab. “Ini sedang berproses di manajemen pusat,” tambah Sugiyono.

Vice President Corporate Communication PT Citilink Indonesia, Benny S Butarbutar, menyampaikan, Citilink Indonesia sejak pertama kali terbang ke Aceh pada 3 Maret 2016, pihak manajemen sudah menyiapkan sejumlah model seragam untuk operasional penerbangannya. Yaitu seragam reguler dan seragam yang mengenakan hijab, khususnya untuk penerbangan umrah dan juga penerbangan ke Aceh.

“Sebagai suatu daerah yang istimewa dengan sebutan Serambi Mekkah, maka perlu kita hormati dan jaga keistimewaan daerah tersebut, khususnya kultur islami yang menaungi Aceh,” ujarnya.

Sumber : Serambi

Comments

comments