Personil Provost membawakan 10 tersangka pengedar narkoba jenis sabu-sabu saat digelar konferensi pers di aula Mapolres Lhokseumawe, Senin (7/6/2021). Foto : Rahmat Mirza

Polres Lhokseumawe Tangkap 10 Pengedar Narkoba dan Amankan Barang Bukti Sabu Seberat 4,4 Kg

LHOKSEUMAWE – Polres Lhokseumawe dalam serangkaian operasi berhasil menangkap sebanyak 10 tersangka pengedar narkoba jenis sabu-sabu dan juga menyita barang bukti sabu seberat 4,4 kg dari sejumlah tersangka di beberapa lokasi yang berbeda.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto mengatakan, penangkapan 10 tersangka bersama barang bukti 4,4 kg sabu itu dilakukan petugas satres narkoba dalam empat kasus yang berbeda.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto didampingi Wakapolres Kompol Raja Gunawan dan Kasat Narkoba Iptu Wisnugraha Parmatha menggelar konferensi pers terkait penangkapan 10 tersangka pengedar sabu-sabu dengan barang bukti seberat 4,4 kg di Mapolres Lhokseumawe, Senin (7/6/2021). Foto: Rahmat Mirza

Ke-10 tersangka tersebut yakni berinisial MD (32), MH (29), YS (33), MY (41), IS (38), SK (25), ES (22), LH (37), TM (41) dan N (37).

Seluruhnya ada empat laporan, yang pertama lokasinya di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, kita mengamankan barang bukti 1,353 kilogram sabu dengan dua orang tersangka MD dan MH.

Selain mereka, ada satu pelaku yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) yang harus kita kembangkan yaitu DS, kata Kapolres.

Lokasi kedua kita mengamankan barang bukti 1,52 kilogram, tersangka YS dengan lokasi kejadian di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, merupakan pengembangan dari kasus terdahulu berhasil menangkap YS.

Tersangka W masih DPO karena barang tersebut diperoleh darinya yang saat ini masih kita buru.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, memperlihatkan barang bukti narkotika dalam kemasan teh cina saat menggelar konferensi pers terkait penangkapan 10 tersangka pengedar sabu-sabu dengan barang bukti seberat 4,4 kg di Mapolres Lhokseumawe, Senin (7/6/2021). Foto: Rahmat Mirza

Kasus ketiga ada empat orang tersangka, MY, IS, SK, dan ES, dengan barang bukti 1,025 kilogram, lokasi penangkapannya berada di Gampong Bungong, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara.

Tersangka MY mendapat upah dari menjual sabu milik H (DPO), sebesar Rp 3 juta. Upah itu apabila berhasil menjual kepada tiga tersangka lainnya. Namun belum sempat dijual semuanya, berhasil dibekuk anggota Satres Narkoba.

Barang bukti sabu seberat 1,025 kilogram dijual seharga Rp 120 juta untuk IS, SK, dan ES.

Ketiga pelaku tersebut berencana akan menjual sabu-sabu kepada pembeli sebesar Rp 250 juta.

Mereka menjual lagi yang akan meraup untung Rp 130 juta. Apabila berhasil dijual, maka ketiganya akan mendapat keuntungan Rp 30 juta, kata AKBP Eko.

Sementara itu, dari 3 kasus penangkapan tersangka sabu-sabu itu, polisi juga meringkus empat pengedar lainnya dengan barang bukti 1,097 kilogram sabu yang dibentuk dalam kemasan bulat seperti jeruk bali.

Penangkapan ini dilakukan di kawasan Kabupaten Aceh Timur dengan indentitas tersangka LH, TM, dan M.

Dari tiga tersangka, ada satu DPO yang masih kita cari berinisial A karena dirinya sudah melarikan diri setelah ketahuan rekannya sudah tertangkap.

“Tim Opsnal Satres Narkoba Polres Lhokseumawe mendapatkan info bahwa mereka akan melakukan transaksi sabu sehingga dilakukan pengintaian. Mereka telah dintai dari Lhokseumawe dan bergerak sehingga masuk ke wilayah Kabupaten Aceh Timur.

Di sana mereka tak bisa berkutik setelah tim menyergap dan berhasil menyita barang bukti sabu-sabu yang telah disimpan dalam kemasan bulat seperti jeruk bali,” kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, didampingi Wakapolres Kompol Raja Gunawan dan Kasat Narkoba Iptu Wisnugraha Parmatha saat konferensi pers, Senin (7/6/2021).

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto memperlihatkan barang bukti narkotika seberat 1,097 kilogram sabu yang dibentuk dalam kemasan bulat seperti jeruk bali saat menggelar konferensi pers terkait penangkapan 10 tersangka pengedar sabu-sabu dengan barang bukti seberat 4,4 kg di Mapolres Lhokseumawe, Senin (7/6/2021). Foto: Rahmat Mirza

Ke-10 tersangka tersebut dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 Jo 112 ayat 2 Jo 132 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal mati atau seumur hidup dan denda Rp 8 miliar.

Terkait kasus tersebut, saat ini kita sedang melakukan pengembangan mengingat maraknya produk kemasan teh cina yang masuk ke Aceh. Oleh karena itu, kita lakukan pengembangan lebih dalam lagi terkait asal barang haram tersebut,” pungkas AKBP Eko. []