11 Juli 2019
redaksi pelita 8 (3311 articles)

Pimpinan dan Seorang Guru Pesantren di Lhokseumawe Cabuli 15 Santri Terancam 90 Kali Cambuk


LHOKSEUMAWE – Tim Polres Lhokseumawe menangkap seorang pimpinan pesantren berinisial AI (45) dan seorang guru berinisial MY (26) di Lhokseumawe.

AI dan MY kini ditahan di Polres Lhokseumawe atas dugaan melakukan pelecehan seksual terhadap belasan santri.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan mengatakan, kasus pelecehan seksual ini terkuak setelah seorang santri yang menjadi korban mengadu ke orangtuanya. Orangtua kemudian melaporkan cerita anaknya ke polisi.

Keduanya ialah AI sebagai pimpinan dan MY guru pesantren. Penangkapan dilakukan setelah adanya orangtua santri melaporkan kasus itu ke Mapolres Lhokseumawe 29 Juni 2019 dan 6 Juli 2019.

Setelah mendapat laporan, polisi memeriksa kedua guru itu pada 8 Juli 2019. Sehari setelah pemeriksaan, keduanya langsung ditahan.

“Pelecehan itu berupa oral seks yang diminta pada santri oleh pimpinan dan guru pesantren tersebut. Mayoritas santri yang jadi korban adalah anak di bawah umur, berusia 13-14 tahun,” kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta didampingi oleh Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang dan Kanit PPA Ipda Lilisma Suryani saat konferensi pers di Mapolres kota Lhokseumawe, Kamis (11/7/2019).

AKBP Ari menjelaskan, dari 15 santri teridentifikasi menjadi korban baru lima orang korban yang diperiksa. Dari hasil pemeriksaan, masing-masing korban telah mengalami pelecehan seksual hingga berulang kali.

“Kita belum tahu apa motifnya, tersangka sampai sekarang pun belum mengaku. Pelecehan seksual itu terjadi sejak September 2018 hingga tersangka ditangkap tiga hari lalu,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan korban, peristiwa itu terjadi di kamar pimpinan pesantren. Caranya, pimpinan meminta santri untuk membersihkan kamar atau tidur di kamar pimpinan tersebut.

“Saya mengimbau bagi keluarga santri, jika anaknya menjadi korban silakan lapor ke kita. Kasus ini terus kami dalami,” katanya.

Atas perbuatannya AI dan MY pasal pidana yang disangkakan pasal 47 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat

“Ancaman pidana paling banyak 90 kai cambuk atau denda 900 gram emas murni, atau penjara paling lama 90 bulan,” pungkasnya. [rm/syh]

Comments

comments

makan jeruk