10 Maret 2018
redaksi pelita 8 (2598 articles)

Pacuan Kuda Takengon, Atraksi Budaya di Tanah Gayo

Para joki memacu kuda pada tradisi pacuan kuda tradisional memperingati HUT ke-441 Kota Takengon di lapangan pacuan Blang Bebangka, Pegasing, Aceh Tengah, Sabtu (10/3/2018). Pelita8/Rahmat Mirza

acuan Kuda Takengon, Atraksi Budaya di Tanah Gayo Pacuan Kuda di daratan tinggi gayo telah menjadi tradisi sejak jaman penjajahan Belanda yang kini menjadi salah satu event wisata Kabupaten Aceh Tengah.

Para joki memacu kuda pada tradisi pacuan kuda tradisional memperingati HUT ke-441 Kota Takengon di lapangan pacuan Blang Bebangka, Pegasing, Aceh Tengah, Sabtu (10/3/2018). Pelita8/Rahmat Mirza

acuan Kuda Takengon, Atraksi Budaya di Tanah Gayo Pacuan Kuda di daratan tinggi gayo telah menjadi tradisi sejak jaman penjajahan Belanda yang kini menjadi salah satu event wisata Kabupaten Aceh Tengah.

Memeriahkan HUT Kota Takengon ke-441, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah kembali mengelar event pacuan kuda tradisional Gayo. Pacuan Kuda di daratan tinggi gayo telah menjadi tradisi sejak jaman penjajahan Belanda yang kini menjadi salah satu event wisata Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (10/3/2018). Pelita8/Rahmat Mirza

ACEH TENGAH – Memeriahkan HUT Kota Takengon ke-441, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah kembali mengelar event pacuan kuda tradisional Gayo.

Pacu kuda atau masyarakat setempat menyebutnya “pacu kude” diselenggarakan dua kali setiap tahunnya untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kota Takengon.

Selain untuk melestarikan tradisi masyarakat Gayo, atraksi budaya tersebut juga mampu menarik minat wisatawan luar daerah untuk berkunjung ke kota yang berhawa sejuk yang terkenal dengan kopi arabicanya.

Ribuan pengunjung datang setiap tahunnya untuk menyaksikan keseruan pacuan kuda yang di tunggangi para joki cilik berusia belasan tahun memacu kudanya tanpa menggunakan pelana atau bahkan pengaman lainnya.[]

Comments

comments