31 Agustus 2018
redaksi pelita 8 (2860 articles)

Memacu Pariwisata dan Investasi Lewat Pertemuan IMF-World Bank di Bali

Oleh: DR. Ichsan M. Ali Basyah Amin

PELITA8 – Bulan Oktober ini akan kembali menjadi saat-saat yang ramai bagi Indonesia. Setelah hiruk pikuk Asian Games di Jakarta dan Palembang nanti berakhir, Indonesia akan menggelar perhelatan akbar internasional di bulan tersebut.

Negeri khatulistiwa ini akan menjadi tuan rumah IMF-World Bank Annual Meetings. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh International Monetary Fund dan World Bank, yang merupakan salah satu forum keuangan tahunan terbesar di dunia.

Perhelatan akan diadakan di Nusa Dua, Bali. Tak kurang dari 15.000 peserta diperkirakan tumpah-ruah dalam pertemuan itu. Mereka terdiri dari 22 kepala negara, 189 menteri keuangan dan gubernur bank sentral, perwakilan lembaga Internasional dan NGO, CEO industri keuangan, akademisi, anggota parlemen, investor, dan awak media.

Penentuan lokasi acara di wilayah Tenggara Bali ini, tentu telah mempertimbangkan kesiapan sarana dan prasarana, fasilitas, dan kondisi daerah tersebut. Nusa Dua memang dikenal memiliki hotel, tempat pertemuan, restoran, dan berbagai fasilitas kelas dunia, serta termashur sebagai area wisata yang indah dan eksotik.

Penetapan Indonesia sebagai tuan rumah acara tidaklah mudah, tetapi melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan. Sejak tahun 2014, tahapan pengajuan proposal, bidding dan seleksi ketat harus dilewati. Setelah melalui voting yang melibatkan 189 negara anggota IMF, Indonesia akhirnya terpilih mengalahkan Senegal dan Mesir.

Senegal sangat berambisi menjadi tuan rumah yang menjadikannya negara Afrika pertama penyelenggara acara prestisius ini. Sementara Mesir yang pernah terpilih di tahun 2012, harus rela digantikan Jepang karena gejolak Arab Spring.

Agenda utama IMF-WB Annual Meetings adalah pembahasan perkembangan ekonomi dan keuangan global. Dalam acara ini juga akan didiskusikan isu-isu global menyangkut kondisi ekonomi dan stabilitas keuangan global, pembangunan, kemiskinan, lapangan kerja dan perubahan iklim.

Selain itu, juga diadakan pertemuan antaranggota G-7, G-20, G-24, BRICS, pertemuan bilateral dan multilateral, seminar ekonomi dan keuangan, dan lain-lain. Dengan kegiatan yang demikian banyak dan jumlah peserta yang besar, diperkirakan nanti akan berlangsung sekitar 2.000 pertemuan.

Indonesia sendiri memanfaatkan perhelatan IMF-World Bank dengan mengusung program Voyage to Indonesia (VTI) melalui serangkaian pra-kegiatan pertemuan. VTI diharapkan menumbuhkan rasa kebanggaan diri bangsa dan membangun persepsi positif komunitas internasional terhadap Indonesia.

Dalam program ini, tuan rumah mengadakan kegiatan-kegiatan showcasing ekonomi Indonesia, promosi destinasi pariwisata Bali dan daerah-daerah lainnya, serta pameran dagang dan investasi. Sejumlah paket wisata di luar Bali akan dipromosikan yaitu Lombok, Tana Toraja, Danau Toba, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Labuan Rajo.

Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah menunjukkan pengakuan dunia internasional atas stabilitas politik, keamanan dan kinerja perekonomian negeri ini. Setelah dua dekade lalu mengalami krisis ekonomi, fundamental perekonomian Indonesia terus membaik. Pertumbuhan ekonomi Nasional kini relatif stabil di atas 5 persen dengan inflasi terjaga dalam kisaran 3,5 persen.

Meskipun demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan seperti fluktuasi rupiah dan defisit transaksi berjalan. Kenaikan Fed Fund Rate, perang dagang AS-China, dan volatilitas harga minyak telah memicu gonjang-ganjing perekonomian global belakangan ini.

Banyak manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan acara IMF-World Bank di Bali. Dampak langsungnya dapat meningkatkan pendapatan di sektor pariwisata, menambah devisa, serta mendorong perekonomian Bali dan Nasional.

Sementara dalam jangka panjang, citra positif dan informasi tentang ekonomi Indonesia diharapkan mengundang masuknya investasi. Tak kalah penting, tentu juga dapat menarik lebih banyak wisatawan ke Bali dan daerah-daerah lainnya. Dalam konteks ini pertemuan IMF-World Bank tersebut menjadi sangat strategis untuk memacu pertumbuhan ekonomi Nasional.

Agar manfaat pertemuan IMF-World Bank di Bali optimal, persiapan dan penyelenggaraan acara hendaknya berjalan lancar. Menjelang pelaksanaan kegiatan yang tidak lama lagi ini, persiapan perlu semakin dimatangkan. Hotel dan akomodasi, tempat pertemuan, serta sarana dan prasarana lainnya mesti dipastikan kesiapannya, baik dari sisi kuantitas, kualitas maupun keamanan. Infrastuktur yang belum rampung, perlu dipercepat penyelesaiannya. Sementara kegiatan-kegiatan hospitality (pagelaran seni dan budaya, festival makanan, dll) juga hendaknya dapat disajikan secara apik dan bermutu.

Setelah pertemuan tahunan IMF-World Bank nanti selesai, masih banyak yang perlu dilakukan pemerintah. Agar iklim investasi kian kondusif, pembangunan proyek infrastruktur di berbagai daerah mesti dilanjutkan. Hanya saja perlu ditetapkan prioritas yang ketat. Fluktuasi rupiah yang diperkirakan terus terjadi ke depan menyebabkan biaya impor barang modal kian membengkak. Investasi tentu juga perlu didukung oleh insentif yang menarik dan regulasi yang mudah, murah dan cepat.

Sementara itu, pengembangan destinasi wisata di luar Bali terasa kian bertambah penting. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah hendaknya semakin fokus mengembangkan industri pariwisata tanah air. Selain menambah devisa negara, berkembangnya pariwisata dapat menghidupkan sektor jasa, industri kecil dan sektor-sektor lainnya yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di waktu mendatang juga diharapkan semakin banyak kegiatan akbar internasional diadakan di berbagai wilayah Nusantara lainnya, tidak hanya di Bali atau Jakarta misalnya. Kegiatan pariwisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), yang kerap diadakan di kedua daerah itu, perlu dikembangkan dengan serius di berbagai daerah lainnya.

Pengalaman menunjukkan perhelatan akbar internasioal seperti Konferensi Perubahan Iklim PBB  dan Konferensi APEC yang pernah diselenggarakan di Pulau Dewata,  berperan besar menggerakkan roda ekonomi masyarakat  dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah ini.

Selamat menyelenggarakan pertemuan IMF-World Bank di Bali! Selamat memacu pariwisata dan investasi Indonesia!.(***)

Penulis : DR.Ichsan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Regional Economist Bank Indonesia Lhokseumawe

Editor  : R Mirza

Comments

comments