5 Januari 2018
redaksi pelita 8 (2598 articles)

Lembaga Pemasyarakatan Banda Aceh Rusuh

ASAP pekat mengepul ke udara akibat sejumlah ruangan dan mobil polisi di LP Kelas IIA Banda Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar, dibakar napi saat terjadi kerusuhan di LP tersebut, Kamis (4/1).

* Tujuh Napi Ditahan Polisi

ACEH BESAR – Kerusuhan yang berujung pembakaran terjadi Kamis (4/1) pagi hingga siang di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Banda Aceh, di Gampong Bineh Blang, Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar. Akibatnya, gedung LP tersebut terbakar bagian depannya dan tujuh narapidana (napi) ditahan polisi.

Dalam kerusuhan itu, para napi yang mengamuk nekat membakar sejumlah ruang LP, misalnya ruang pemeriksaan tamu beserta perangkat X-Ray, ruang binapi data, ruang administrasi, ruang kepala keamanan LP, dan gudang LP.

Selain itu, satu unit mobil penerangan Dalmas (pengendalian massa) Polresta Banda Aceh juga dibakar napi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Serambi dari Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Aceh, Brigjen Pol Bambang Soetjahyo, kerusuhan itu berawal dari rencana pihak Kemenkumham Aceh dan Polresta Banda Aceh yang ingin menjemput ketiga napi, yaitu Gun, Bah, dan Muh dari LP tersebut. Ketiga napi yang tersangkut kasus narkoba itu rencananya akan dipindah ke LP Kelas I Tanjung Gusta, Sumatera Utara.

Penjemputan Bah dan Muh berjalan lancar. Namun, Gun yang berada di kamar terpisah menolak dipindahkan ke Sumatera Utara, sehingga ia memprovokasi napi lainnya. Para napi yang terprovokasi pun bereaksi dengan menyoraki dan melempari petugas. Akhirnya, kerusuhan pun terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

“Karena tak mau dipindahkan, salah seorang napi ini memprovokasi napi yang lain, sehingga terjadi kerusuhan,” ujar Bambang.

Karena jumlah sipir dan polisi penjaga tidak seimbang dengan jumlah napi yang mengamuk, sehingga polisi dan sipir mundur ke arah luar LP. Saat itu sebuah mobil dalmas milik Polresta Banda Aceh tertinggal di dalam area ruang tahanan. Mobil itu kemudian dibakar napi.

Mereka juga terus merangsek ke arah pintu ke luar dengan membobol dua lapis pagar kawat setinggi lima meter. Namun, pagar terakhir yang terbuat dari baja tidak mampu dibobol oleh para napi. Lalu mereka membakar semua ruangan yang selama ini ditempati oleh sipir.

Salah seorang napi pendamping (tamping) yang bertugas di dapur umum kepada Serambi menyampaikan, awalnya para napi yang mengamuk itu sempat juga menyasar dapur umum dan klinik, sehingga terjadi aksi saling dorong di pintu gerbang dapur antara tamping dengan napi yang kalap. “Awalnya semua ruangan hendak dibakar, tapi kami katakan semua boleh dibakar, kecuali dapur dan klinik,” ujar tamping tersebut.

Pantauan Serambi di lokasi kemarin, kerusuhan memuncak sekitar pukul 12.00 WIB. Para napi melemparkan batu ke arah luar penjara, sehingga mengenai sejumlah petugas kepolisian dan pemadam kebakaran.

Petugas pemadam kebakaran memadamkan ruangan Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) kelas_II A yang terbakar saat terjadinya kerusuhan di Banda Aceh, 4 Januari 2018. Kerusuhan tersebut dimulai ketika tiga narapidana menolak dipindahkan ke tempat lain. Foto/AP Images

Tujuh mobil pemadam kebakaran dari Banda Aceh dan Aceh Besar dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api. Petugas tampak kesulitan memadamkan api karena tak bisa masuk ke dalam LP, sehingga mereka hanya menyemprotkan air dari luar melalui sela-sela bangunan.

Karena posisi napi sudah mencapai gerbang terakhir sebelum ke luar, sejumlah anggota Brimob pun masuk ke dalam untuk menembakkan gas air mata. Terdengar ada belasan kali tembakan gas air mata diarahkan ke bagian dalam LP.

Tembakan gas air mata itu ternyata berhasil mendesak para napi mundur ke dalam. Dengan taktik seperti itulah seratusan personel yang terdiri atas Brimob Polda Aceh, polisi Polresta Banda Aceh, dan TNI dari Yonif 112 Raider berhasil masuk ke dalam dan memaksa para napi berlarian masuk ke ruang tahanan masing-masing.

Kondisi yang rusuh mulai dapat dikendalikan sekitar pukul 14.00 WIB, lalu aparat keamanan menarik semua napi dari ruangan untuk dikumpulkan di lapangan bagian tengah LP. Polisi juga mengamankan tujuh napi yang diduga menjadi provokator kerusuhan, termasuk Gun, napi yang keberatan dipindah ke LP Tanjung Gusta.

Pada saat bersamaan, puluhan keluarga napi juga berdatangan ke LP tersebut. Karena mendengar kerusuhan dan LP dibakar, mereka mengkhawatirkan nasib anggota keluarganya. Namun, petugas belum mengizinkan para keluarga bertemu dengan napi. “Saat mendapat kabar penjara Lambaro dibakar, saya langsung ke sini, karena khawatir anak saya terkurung di dalam,” ujar Faridah (70), warga Montasik, Aceh Besar yang anaknya menjadi salah satu tahanan.

Hingga tadi malam, ketujuh napi yang diamankan polisi tersebut masih ditahan di sel Mapolda Aceh.

Sumber : Serambi

Comments

comments