Lely Chairani, Dari Inai Pengantin Beralih Ke Usaha Masker Saat Pandemi

Lely Chairani, Memperlihatkan Masker Yang Akan Dipasarkan.

LHOKSEUMAWE – Memasuki era New Normal, masker menjadi kebutuhan masyarakat terutama saat beraktifitas di luar rumah. Dan pada awal  pandemi Covid-19, masker menjadi barang langka di daerah dan sulit didapatkan oleh masyarakat. Selain itu juga harga yang sangat tinggi karena banyak permintaan tapi stoknya terbatas.

Seiring berjalan waktu virus corona terus meningkat di Indonesia khususnya Aceh, sesuai dengan peraturan pemerintah masker kain pun bisa digunakan untuk mencegah penyebaran virus corona. Sehingga  masker kain hadir ditengah-tengah masyarakat dengan berbagai desain unik dan menarik.

Lely Chairani (31), sebelum virus corona melanda Indonesia dia berbisnis memakaikan inai pengantin dan menyewakan tempat seserahan pengantin. Disaat pandemi usaha inai miliknya mengalami penurunan karena banyaknya acara pernikahan yang diundur. Ia memutuskan untuk semantara waktu beralih mencoba peruntungan dengan memproduksi masker rumahan dengan dijahit sendiri dan dibantu oleh beberapa kerabatnya.

Begitu virus corona muncul, dia menjahit masker untuk  digunakan sendiri dan keluarga. Lalu masker yang didesain itu diunggah di akun facebook Lely Chairani (Inai pengantin dan seserahan) dan instaqram miliknya (lelyhenna) dari situlah pesanan terus meningkat dari konsumen terutama para milenial, ibu-ibu, anak-anak dan pekerja swasta. Kata Lely saat diwawancara dihalaman rumahnya yang didampingi oleh sang suami Minggu (22/11/2020).

Wanita usia 31 tahun itu, mengaku berkreasi dengan desain masker yang unik dan cantik dari bahan pilihan sesuai permintaan dari pelanggan. Bahan yang digunakan kain katun Jepang pilihan yang lembut dan nyaman saat di pakai.

Lely mengatakan, masker yang di desainnya sesuai dengan himbauan World Health Organization (WHO). Panduan wajib menggunakan masker tiga lapis untuk pencegahan Covid-19, masker non-medis yang terbuat dari bahan kombinasi dari berbagai jenis kain dan material menghasilkan filtrasi yang berbeda terhadap kemampuan untuk bernafas dan penyaringan virus.

“Saat ini, kita pasarkan melalui beberapa media akun sosial miliknya facebook instagram dan via whatsapp. Dan pelanggan sangat antusias untuk membeli dari berbagai daerah yang ada di Aceh, seperti Aceh Utara, Bireun, Banda Aceh, Sabang, Takengon, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur dan beberapa daerah lainnya,” kata Lely alumni salah satu mahasiswa kebidanan di Lhokseumawe.

Lely sendiri tak menyangka masker cantik dan unik buatannya laris manis dipasaran, dan permintaan terus melonjak  tinggi. Setiap bulannya dia memproduksi 2.000  pieces masker dengan meraup omset jutaan rupiah. Masker yang di jual rata-rata seharga  Rp 12.000 perbuah.

Menurut Lely, masker kain saat ini bukan hanya saja sebagai pelindung tubuh dari penyebaran virus corona namun juga sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat.

“Asal kita memiliki kreatifitas dan keunikan, bisnis masker masih bisa menjadi peluang bisnis saat pandemi karena masker sudah menjadi kebutuhan banyak orang saat beraktivitas di luar rumah,” pungkasnya.

(khaidir)