26 Agustus 2019
redaksi pelita 8 (3346 articles)

Kronologi Penangkapan Dua Kapal Angkut 25 Kg Sabu dan 59 Ton Bawang Ilegal dari Malaysia

LHOKSEUMAWE – Tim Satuan Tugas Patroli Terkoordinasi Kastam Indonesia Malaysia (Satgas Patkor Kastima) 25A mengamankan 25 Kg sabu dan 59 ton bawang merah ilegal asal Malaysia yang diangkut dengan dua kapal motor. Kedua kapal bersama sejumlah anak buah kapal (ABK) itu disergap tim Satgas Patkor Kastima 25A dengan menggunakan Kapal Patroli Bea Cukai BC 3005 di perairan Jambo Aye, Aceh Utara, Rabu (21/8/2019).

Satgas Patkor Kastima 25A beranggota pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kanwil Bea Cukai Aceh, Kanwil Bea Cukai Kepulauan Riau, Pangkalan Sarana Operasi (PSO) Bea Cukai Tanjung Balai Kariumun, Bea Cukai Lhokseumawe, TNI AL, Polres Lhokseumawe dan Polda Aceh.

Tim gabungan tersebut juga mengamankan empat tersangka berinisial SA (44), pekerjaan nelayan, warga Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, serta NK (50), N (28), pekerjaan nelayan, keduanya warga Gampong Keude Lapang, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, dan AI (38), nelayan, warga Gampong Ulee Rubek Barat, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.

Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh, Safuadi mengatakan, sabu dan bawang merah ilegal tersebut dimuat dalam dua kapal motor (KM) berbendera Indonesia yakni KM. Chantika dan KM. Alif. Keberhasilan penggagalan penyelundupan barang impor itu bermula dari informasi masyarakat yang diterima Satgas Patkor Kastima 25A, bahwa telah bertolak dua kapal motor dari pelabuhan Penang, Malaysia, Selasa, 20 Agustus 2019, sekitar pukul 5.00 waktu Malaysia.

Kedua kapal tersebut diindikasikan memuat barang ilegal tujuan Aceh. Kemudian pada Rabu, Satgas menjumpai target dan melakukan pengejaran. Setelah berhasil diberhentikan, KM. Cantika diperiksa pada titik koordinat 05-23-18U/097-49-30T di perairan Jambo Aye di posisi 20NM timur laut. Kapal tersebut (KM. Chantika) dinahkodai tersangka NK beserta empat ABK, tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah.

Setengah jam setelahnya, sekitar pukul 07.00 WIB, Satgas mendapatkan dan memeriksa KM. Alif pada titik koordinat 05-23-00U/097-53-12T di perairan yang sama dinahkodai tersangka SA beserta dua ABK, tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah.

“Selanjutnya petugas (Satgas) membawa kedua kapal motor tersebut ke Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara dan diserahkan kepada Bea Cukai Lhokseumawe untuk pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan pemeriksaan, KM. Chantika kedapatan memuat bawang merah sebanyak 4.232 bags (38 ton), sedangkan KM. Alif memuat bawang merah 2.336 bags atau lebih kurang 21 ton serta narkotika jenis sabu (metamfetamina) sebanyak 25 bungkus dengan berat 25 Kg, dan tiga kemasan kecil dengan berat total 4 gram,” kata Safuadi didampingi Wadir Reserse Narkoba Polda Aceh, AKBP Heru Suprihasto dan Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan dalam konferensi pers di Polres Lhokseumawe, Senin (26/8/2019).

Menurut Safuadi, sabu itu berhasil ditemukan di ruang kamar mesin kapal dalam tumpukan bawang merah. Diperkiraan, bawang merah yang ditangkap dari kedua kapal tersebut lebih kurang 59 ton senilai Rp545.950.000. Sedangkan narkotika jenis sabu diperkirakan senilai Rp37.500.000.000.

“Barang bukti narkotika berupa sabu diserahkan kepada Polda Aceh dan Polres Lhokseumawe untuk proses penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut. Sementara Bea Cukai Lhokseumawe menangani bawang merah ilegal untuk proses hukum lebih lanjut,” ujar Safuadi.

Wadir Reserse Narkoba Polda Aceh, AKBP Heru Suprihasto mengatakan, pada Kamis (22/8/2019), pihak Bea Cukai Lhokseumawe menyerahkan barang bukti satu buah tas warna hitam beserta 25 bungkus sabu tersebut, dan tiga tersangka bernisial SA, NK dan N kepada pihak Satresnarkoba Lhokseumawe. “Selanjutnya dilakukan pengembangan dan berhasil menangkap tersangka AI yang merupakan perantara antara pemilik sabu yang berada di Malaysia,” kata Heru.

Menurut pengakuan tersangka AI, kata Heru, mulanya AI dihubungi tersangka M (masih buron/DPO) dari Malaysia dan menawarkan sabu sebanyak 25 bungkus. Selanjutnya tersangka AI menjumpai tersangka ML (DPO) dan menyatakan bahwa ada barang (sabu) dari temannya (tersangka AI) yang berada di Malaysia, sehingga terjadi negosiasi antara tersangka AI dan ML yang hasilnya ML menerima tawaran dari AI dengan perjanjian tersangka AI meminta imbalan Rp2.500.000 perbungkus, dan akan dibayar apabila sabu tersebut sudah diterima tersangka ML.

“Lalu, tersangka ML mencari tekong dan pembeli lain yaitu tersangka SA sebagai tekong dan AS (DPO) sebagai pembeli lainnya. Selanjutnya tersangka ML, SA dan AS berjumpa bertiga untuk membicarakan ongkos membawa sabu dari Malaysia ke Aceh, dan disepakati senilai Rp15.000.000, dan untuk sabu milik ML sebanyak 15 Kg dengan diberikan DP (uang muka) Rp5.000.000,” katanya.

Heru menambahkan, sabu milik AS (DPO) sebanyak 10 Kg dengan DP Rp10.000.000 dan pembayaran Rp5.000.000 diserahkan langsung kepada tersangka SA, sementara Rp5.000.000 ditransfer melalui rekening istri tersangka SA.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan mengungkapkan, tersangka SA berangkat ke Malaysia dengan membawa ABK tersangka N dan NK, dan sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk mengambil sabu ke Malaysia di bawah kendali AI. Lalu, tersangka SA, N dan NK menerima sabu di sana pertama sebanyak 10 Kg dan kedua seberat 15 Kg dengan waktu yang berbeda.

“Setelah menerima sabu pada, Selasa (20/8/2019), ketiga tersangka itu berangkat dari Malaysia menuju ke Aceh sehingga setiba di perairan Jambo Aye, Aceh Utara, ditangkap pihak Bea Cukai. Mereka (tersangka jaringan) internasional,” ujar Ari Lasta.

Sedangkan tersangka masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), lanjut Ari, di antaranya tersangka M (yang menghubungi tersangka AI dari Malaysia), AS (pemilik 10 Kg sabu), dan ML (pemilik 15 Kg sabu).

Para tersangka yang sudah ditangkap dikenakan Pasal 115 Ayat (2) Jo Pasal 112 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) Subsider Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 112 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman pidananya hukuman mati, seumur hidup dan penjara paling singkat lima tahun, paling lama 20 tahun penjara, pungkas AKBP ARI Lasta.[]

Comments

comments

makan jeruk