Ilustrasi narkoba

Kisah Adnan, Jatuh Bangun Perjuangkan Keinginan Lepas dari Jerat Narkoba

Ilustrasi narkoba
Ilustrasi narkoba

 

BOGOR –  Sesosok pria berjanggut nampak santai duduk di pelataran klinik Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) Puskesmas Kedung Badak. Tawa dan senyum nampak menghiasi garis wajahnya yang cerah.

Namun di balik tawa dan senyum tersebut, ada kisah pahit yang tertinggal. Adnan, begitu ia biasa disapa, merupakan klien di klinik PTRM Puskesmas Kedung Badak. Dengan kata lain, ia adalah mantan korban narkoba yang telah menjalani proses terapi substitusi oral menggunakan metadon.

“Pakai putaw sejak tahun 1995. Jatuh bangun sudah clean, kambuh lagi, clean kambuh lagi sampai akhirnya tahun ini sudah bersih total. Alhamdulillah sudah tiga bulanan clean,” urai Adnan mengawali perbincangan dengan detikHealth di Puskesmas Kedung Badak, Jl KH Sholeh Iskandar, Tanah Sereal, Bogor, Jawa Barat.

Ya, Adnan merupakan salah satu dari 5 orang klien PTRM Puskesmas Kedung Badak yang sudah dinyatakan pulih dan bebas dan kecanduan napza. Meski begitu, perjuangan untuk bisa lepas dari jerat narkoba membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Kepada detikHealth, Adnan mengaku awalnya hanya iseng. Pergaulan di lingkungan membuatnya kenal dengan putaw. Dari awalnya yang iseng mencoba, dalam waktu 2 tahun Adnan sudah mencapai level kecanduan.

“Iseng, karena ingin dibilang gaul kan. Tapi lama-lama dari yang seminggu sekali jadi tiga hari sekali jadi akhirnya setiap hari. Tahun 1997 karena udah jadi kebutuhan, akhirnya gue mulai nyuntik,” ungkapnya.

Teguran pertama kali datang di tahun 1999. Adnan yang saat itu sedang menggunakan putaw bersama teman-temannya tertangkap oleh polisi. Ia divonis 6 bulan dipenjara. Setelah lepas, ia memutuskan untuk berhenti.

Sempat bersih selama 3 tahun, pergaulan dengan teman-teman lama membuatnya kembali lagi ke lingkungan pengguna narkoba. Adnan yang saat itu sudah mulai bekerja mengaku merasa lebih percaya diri dengan menggunakan putaw.

“Pakai kurang lebih 3 tahun, akhirnya keluarga tahu kan. Tahun 2004 sempat berobat jalan di RSKO Cibubur, cuma namanya junkie, akhirnya balik kena lagi. Saat itu keluarga udah hilang kepercayaan dan akhirnya gue memutuskan untuk pindah,” tambahnya.

Adnan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bisa lepas dari jerat narkoba adalah mengganti pergaulan. Ia pun pindah dari Bogor ke Bandung dan mulai mencari pekerjaan. Ia juga memutuskan untuk menikah dan mulai membangun kembali hidupnya.

Nahas, pindah ke tempat baru ternyata tidak membuatnya lebih baik. Lepas dari putaw, ia malah berkenalan dengan sabu-sabu. Hal ini membuatnya kembali menjadi pecandu. Kehidupan rumah tangga dan pekerjaan yang sudah susah payah dibangun pun hancur berantakan.

Gagalnya pernikahan dan sederet masalah kehidupan lainnya membuat Adnan menjadi menutup diri. Ia akhirnya pulang kembali ke Bogor dan tinggal bersama salah seorang sepupunya yang bernama Iman.

Kebetulan Iman merupakan pecandu yang sedang menjalani terapi substitusi oral metadon. Pergaulan dengan Iman membuatnya mengenal para klien PTRM Puskesmas Kedung Badak lainnya, dan membuka pintu untuk berobat.

Tahun 2008, Adnan menjalani terapi substitusi metadon. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Adnan merasa lebih baik. Kualitas hidup meningkat diiringi kemampuan bersosialisasi yang lebih baik membuatnya kembali bisa mendapat pekerjaan.

“Gue lihat anak-anak yang metadon ini kerjaannya settle, fungsi sosialnya bagus. Tetap bisa kerja dan berkeluarga. Setelah ikut, gue memang merasa lebih baik. Dulu yang kerja cuma cari duit Rp.100 ribu per hari buat pakaw (menggunakan narkoba -red) sekarang cuma Rp. 7.000 sudah bisa merasakan sensasi yang sama,” urainya.

Memang perjalanan terapi Adnan tidak mulus. Ia sempat berhenti pada tahun 2012 karena merasa jenuh. Tapi karena lingkungan PTRM Puskesmas Kedung Badak yang mendukung, ditambah sosok koordinator pelayanan PTRM Ibu Nunung yang mengedepankan kekeluargaan, Adnan kembali menjalani terapi.

Hasilnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2015. Dosis terapi metadon Adnan perlahan menurun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sama sekali pada bulan Februari 2016 dan berlanjut hingga sekarang. Meski sudah dinyatakan bersih, Adnan masih tetap menyempatkan diri untuk datang ke klinik.

“Karena gue ngerasain sendiri, tiap orang buruh orang lain untuk memberi dukungan buat mereka ke arah yang lebih baik. Gue datang karena butuh support dari mereka untuk tetap clean. Di sisi lain mereka juga gue support untuk bisa clean atau minimal bisa tetap menjalani terapi dan nggak drop-out,” tutupnya seperti ditulis DetikHealth, Minggu (24/7).

 

(MS)