16 Juli 2019
redaksi pelita 8 (3119 articles)

Kesaksian Korban Konflik Bersaksi di Hadapan KKR Aceh


LHOKSEUMAWE – Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh menggelar Rapat Dengar Kesaksian (RDK) Korban Pelanggaran HAM di Kabupaten Aceh Utara dan Lhokseumawe, di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara, Selasa (16/7).

Pelaksanaan RDK kali ini mengusung tema “Dengarkan suara korban: Mengungkap masa lalu, menata masa depan”. Berlangsung selama dua hari 16-17 Juli 2019.

Rapat tersebut dipimpin Ketua KKR Aceh Afridal Darmi didampingi Komisioner KKR Aceh Evi Narti Zein, Ainal Mardiah, Mastur Yahya, Fuadi Abdullah, dan Muhammad Daud Berueh, yang menghadirkan 7 kesaksian korban pada hari pertama untuk diperdengarkan di hadapan para tamu undangan yang hadir.

RDK hari pertama itu turut dihadiri mantan Juru Runding MoU Helsinki mewakili Pemerintah RI, Laksda (Purn.) TNI Soleman B. Ponto, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI, Edwin Partogi Pasaribu, Ketua DPRK Aceh Utara, Ismail A. Jalil, Asisten I Setda Aceh Utara Dayan Albar dan sejumlah pihak lainnya.

Berdasarkan tata tertib dibacakan Komisioner KKR Aceh, Evi Narti Zein, saat rapat dimulai, demi keamanan dan perlindungan para pemberi kesaksian, KKR Aceh telah memutuskan dan menetapkan beberapa ketentuan dalam peliputan bagi wartawan maupun tamu undangan RDK tersebut. Di antaranya, wartawan tidak diperkenankan mewawancarai pemberi kesaksian untuk pemberitaan RDK, tidak diperkenankan mengambil kutipan, video dan foto atas diri pemberi kesaksian yang sedang menyampaikan kesaksiaannya.

Ketua KKR Aceh Afridal Darmi mengatakan, RDK pertama kali dilakukan KKR Aceh pada tahun 2018 di Anjong Monmata, Banda Aceh. Meski kali ini merupakan RDK kedua namun juga merupakan RDK Lokalistik pertama yang dilaksanakan diwilayah kabupaten/kota.

Hari ini, kita dihadirkan sebagai keynote speech yang disampaikan oleh mantan Juru Runding MoU Helsinki mewakili Pemerintah RI, Laksda (Purn.) TNI Soleman B. Ponto.

Pelaksanaan Rapat Dengar Kesaksian (RDK) untuk mencegah isu-isu seperti referendum dan sebagainya. Kita ingin perdamaian yang sudah terlaksana ini bisa berjalan dengan baik untuk ke depan,” kata Afridal Darmi kepada wartawan di Gedung DPRK Aceh Utara.

RDK menjadi ruang bagi pemberi kesaksian (saksi, korban dan pihak yang diduga pelaku) untuk menyampaikan secara sukarela ihwal peristiwa yang dialaminya pada masa konflik Aceh selama periode 1976-2005.

Saksi yang memberi keterangan dengan mematuhi seluruh aspek kerahasiaan dan keselamatan korban, intinya mereka menceritakan tentang kekerasan dialami dan dugaan pembunuhan yang dialami oleh anak saksi tersebut, kata Afridal.

Hari ini adalah hanya mengulang kembali keterangan itu dan menjadikannya sebagai sebuah dokumentasi resmi khususnya.

Oleh karena itu, tujuan dilaksanakan Rapat Dengar Kesaksian tersebut guna mendidik publik untuk mengetahui kebenaran dari pelanggaran HAM yang telah terjadi di masa lalu, termasuk faktor penyebab, pola dan dampak. Serta, memfasilitasi proses pemulihan sosial dan rehabilitasi korban, ujar Ketua KKR Aceh Afridal Darmi. [RM]

Comments

comments

makan jeruk