2 November 2018
redaksi pelita 8 (2860 articles)

Keluarga alm. Mahyar Tahanan Tewas di Polsek Bendahara di Dampingi LBH Laporkan Ke Polres Aceh Tamiang

Foto : Dokumentasi LBH Banda Aceh Pos Lhohseumawe Saat di Dampingi Keluarga Korban Buat Laporan ke Polres Aceh Tamiang.

 

 

ACEH TAMIANG – Keluarga almarhum Mahyar didampingi kuasa hukumnya dari LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe membuat laporan pengaduan ke Polres Aceh Tamiang, Rabu, 31 Oktober 2018. Laporan itu tentang dugaan tindakan penganiayaan yang menyebabkan menghilangkan nyawa Mahyar setelah ditangkap oleh personel Polsek Bendahara, Aceh Tamiang, 22 Oktober 2018.

Koordinator LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe, Fauzan, S.H., mengutarakan, pihaknya mendampingi Mazlan (40), abang dari almarhum Mahyar, membuat laporan di Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Aceh Tamiang, Rabu (kemarin), sekitar pukul 15.30 WIB.

“Nomor Surat Tanda Bukti Lapor: STB/83/X/RES.1.6/2018/SPKT,” kata Fauzan dalam siaran pers diterima pelita8.com, Kamis, 1 November 2018.

Fauzan menjelaskan, meskipun Polda Aceh saat ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap mantan Kapolsek Bendahara tersebut, laporan yang dibuat di SPKT Polres Aceh Tamiang menyangkut tindak pidana umum berupa dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian Mahyar.

“Laporan tersebut dilakukan oleh keluarga untuk mencari keadilan terkait dengan meninggalnya alm. Mahyar yang diduga kuat (penganiayaan) dilakukan oleh anggota kepolisian dari Polsek Bendahara pada 22 Oktober 2018. Laporan tersebut dilakukan keluarga pada hari ini (kemarin, red) karena sebelumnya keluarga ingin fokus pada acara tujuh hari alm. Mahyar dan Alhamdulillah hari ini adalah hari kedelapan,” ujar Fauzan.

Menurut Fauzan, pelapor dimintai keterangan sekitar 3jam saat membuat laporan di SPKT Polres Aceh Tamiang. Dari pemeriksaan tersebut, kata Fauzan, ada beberapa hal penting yang disampaikan pelapor kepada juru periksa. Di antaranya, pada Senin, 22 Oktober 2018, sekitar pukul 22.00 WIB, pelapor sempat melihat korban dibawa oleh aparat kepolisian dengan sepeda motor jenis matic. “Korban didudukan di depan sepeda motor, tepatnya di pijakan kaki dengan posisi kaki korban pada saat itu terseret-seret,” katanya.

“Pelapor juga menambahkan bahwa saat memandikan jenazah korban, pada tubuh korban terdapat beberapa lebam di perut, kedua betis, badan bagian belakang, luka di bagian bibir dan kuku,” ujar Fauzan.

Menurut Fauzan, pihaknya dan keluarga korban juga mengharapkan agar aparat kepolisian netral dalam perkara yang dilaporkan ini. “Klien kami hanya menuntut keadilan dan itu adalah hak mereka sebagai warga Negara Republik Indonesia. Untuk semua pihak, kami berharap mendukung proses ini demi keadilan yang dijamin oleh konstitusi negara kita,” ujar Fauzan.

Editor : MS

Comments

comments