5 Juli 2019
redaksi pelita 8 (3281 articles)

Jurnalis Pase Kecam Tulisan Opini “Parasit Demokrasi” Kemal Fasya Humas Unimal

LHOKSEUMAWE – Jurnalis kota Lhokseumawe dan Aceh Utara atau lebih dikenal dengan Jurnalis Pase mengecam opini berjudul “Parasit Demokrasi” yang terbit di halaman opini salah satu media cetak lokal di Aceh pada edisi Kamis, 4 Juli 2019.

Tulisan dalam opini tersebut yang ditulis oleh Kemal Fasya sebagai kepala UPT Kehumasan Universitas Malikussaleh, menyudutkan profesi jurnalis dan dapat digolongkan sebagai tindak pidana.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan sejumlah perwakilan Organisasi Wartawan, diantaranya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Aceh (DPP-PWA) , Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Pewarta Foto Indonesia (PFI) dalam konferensi pers di QBO Kupi, Lhokseumawe, Jumat (5/7/2019).

Sejumlah penggalan kalimat dalam opini tersebut yang dinilai menyudutkan antara lain, “Wartawan Bodrex lebih banyak berkerumun pada momen-momen meugang puasa dan meugang lebaran,” dan “Banyak wartawan, amplopnya diambil, berita tak pernah ditulis.”

“Opini saudara Kemal Fasya itu jelas-jelas menyudutkan profesi kami. Bila disebutkan ada wartawan yang meminta uang meugang, mana bukti dan siapa orangnya, siapa juga yang menerima amplop tidak menulis berita,” kata Korlap Lintas Organisasi Wartawan Rahmad YD.

Ia menilai, penggalan kalimat dalam opini tersebut melukai perasaan pewarta, khususnya di Lhokseumawe dan Aceh Utara, yang selama ini telah menjalankan tugas dan fungsi jurnalis dengan baik. “Ini masalah serius karena menyangkut profesi kami,” ujar Rahmad YD.

Sementara Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe, Agustiar, menyebutkan opini “Parasit Demokrasi” kurang bijak. Menurutnya, di satu sisi Kemal Fasya menyanjung pewarta yang memegang teguh idealisme jurnalis. Namun di sisi lain, kata Agustiar, Kemal malah menyudutkan dengan menitipkan amplop untuk jurnalis, bahkan menitipnya melalui seorang anggota AJI.

“Kemal Fasya kurang bijak, padahal dia seorang akademisi dan kerap menjadi sumber berita. Di satu sisi, dalam tulisan itu ingin mengapresiasi wartawan anti amplop, di sisi lain justru memalukan karena yang bersangkutan menitipkan amplop untuk seorang wartawan dan dititipkan melalui seorang wartawan senior yang notabene anggota AJI,” kata Agustiar.

Hal senada juga disampaikan perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Aceh, Deni Andepa mmenyebutkan, kita sangat menghargai opini seseorang di media, namun jangan sampai berbenturan dengan etika dan kehormatan orang lain,” ujarnya singkat.

Ketua Umum DPP PWA, Maimun Asnawi juga menyayangkan opini Kemal. Maimun mengatakan, tidak seharusnya Kepala UTP Kehumasan Unimal itu berpendapat di media tentang “Parasit Demokrasi” dengan menjelek-jelekan profesi wartawan. Karena sangat banyak sudut pandang lain bisa dijadikan argumen yang lebih menarik untuk ditelaah.

“Sekarang saya bertanya, apakah Kemal Fasya dan seluruh orang yang ada di Unimal itu jauh lebih baik dari kaum kami para jurnalis. Jangan munafik, semua kita tidak sempurna, ada saja kesalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konon lagi bagi mereka yang duduk di posisi tertentu dalam sebuah lembaga, seperti Kemal Fasya di Unimal,” ujar Maimun.

Di akhir konferensi pers itu, para jurnalis mensomasi Kemal Fasya untuk segera meminta maaf secara tertulis dan dimuat di media yang menerbitkan opini tersebut. Mereka juga mendesak Rektor Unimal Dr. Herman Fithra agar mencopot jabatan Kemal Fasya sebagai Kepala UPT Kehumasan Unimal. [RM]

Comments

comments

makan jeruk