23 Mei 2017
redaksi pelita 8 (2059 articles)

Inventorku Tak Seberuntung “Si Listrik Kedondong”

 

Nauval, Penemu Listrik Kedondong di Aceh Timur

“Namamu sedang  viral, tak etis rasanya kalo ku sebut namamu,   namun aku terpaksa, maafkan aku kawan…” 

Sungguh beruntung dirimu Naufal penghargaan demi penghargaan telah kau dapatkan atas penemuan yg mencengangkan dunia riset Indonesia. Penghargaan langka di sebuah negeri yang menasbihkan diri “Nanggroe syariah”.  Ini semua karena keikhlasanmu berbuat untuk bangsamu yg sudah lupa bahwa ada manusia di ujung negeri sana, Negerimu yang bodoh,  bahkan untuk memberikan cahaya kecil saja tuk dirimu mereka tak mampu.

Kamu sekarang beruntung Naufal, bisa mengembangkan ilmu mu sampai ke jenjang perguruan tinggi tanpa beban, tanpa biaya dan itu harapan kami untuk sang penemu muda.

Naufal sang inventor muda, tancapkan listrikmu ke singgasana sang raja, biar tubuh mereka bergetar, terbangun dari bobok yang panjang, berikan daya yang besar dalam bohlam penemuanmu, biar cahayanya membukakan mata katarak sang raja negeriku ini.

Maulidi Rahmi dan Fadlun,  Siswa SMA Paya Bakong Aceh Utara, penemu aplikasi Tunawicara, duta Aceh dan Juara  International Science Project Olimpiad (ISPO) di Tanggerang Februari  2017, jika tidak ada beasiswa, foto ini dan medali mereka hanya akan menjadi kenangan dan pajangan bahwa mereka pernah berprestasi namun kemiskinan menghambat mereka ke Perguruan Tinggi.

Cahaya yg terang biar mereka bisa belajar dari penemuanmu, biar mereka paham hakikat pendidikan, tak hanya selalu berkutat dengan kurikulum, peraturan tak jelas yang belum ada kajian ilmiah akan keberhasilannya. Terangi terus, biar mereka paham bahwa pendidikan bukan hanya nilai di kertas saja, bahwa pendidikan bukan mengejar nilai ujian nasional belaka.

Kuatkan arus listrikmu,  tancapkan ke telinganya biar keluar kotoran keras yg sudah membeku berabad tahun lamanya dan tancapkan pada diri kami, biar kami bisa berteriak keras “inventor mudaku, tak seberuntung mereka.

Bangun… sudah siang, saatnya kerja, lihat bangsamu bukan hanya lihat keluargamu, kamu pemimpin bukannya yang harus dipimpin”.

 

Naufal, kami cemburu padamu,

jangankan penghargaan dan dielu-elukan, untuk melanjutkan pendidikan saja kami susah tak karuan. Keterbatasan anggaran menjadi hambatan kami berjuang. Mungkin kami anak antah berantah di negeri tak bertuan, Negerinya dongeng Cinderella.

 

Khairul Rizal dan  Fauzi,  siswa SMA Paya Bakong Aceh Utara mewakili Aceh dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia di Surabaya 2015, saat ini sedang berjuang untuk memperoleh beasiswa “Bidik Misi” agar bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, jika gagal mereka pulang kampung dan tak jadi kuliah. 

Naufal,…

Dirimu beruntung masih punya rumah dan orang tua, Inventor mudaku orang tuanya sudah tiada, jangankan sekolah untuk makan saja mereka susah.  Melanjutkan pendidikan, mungkin hanya jadi asa yang terpendam.

“Penghargaan yang selama ini kalian dapatkan, simpan saja sebagai kenangan, toh mereka sudah buta aksara untuk memahami maknanya”

 

 

Pupus harapan? tentu saja tidak !  Aku tak mendidik inventor sejati mengalah akan takdir hidup. Aku yakin Allah punya skenario cantik untuk dua pahlawan negeriku ini, pahlawan tak bertuan dan selalu ada dalam hatiku. Jangan berharap dari negeri congkak antah berantah tak berujung rimba ini.

Negerimu, negeri syariah katanya Islam panutan mereka. Namun, suatu saat kamu akan paham kejamnya politik negeri ini. Tinjulah congkaknya negeri ini, pemimpin bangsa ini, raja di negeri syariah ini. Terus berjuang, gapai asa.  Allah akan menunjukkan jalan keluar.
Naufal,

Salam dari kami, anak negeri di ujung rimba tak bertuan, katakan… kami juga punya asa, sama seperti mereka di dekat sang singgasana itu.

Dari kami Fauzi dan Maulidi Rahmi

 

Penulis, Qusthalani, M.Pd – Kordinator KIR Aceh Utara, Ketua Ikatan Guru (IGI) Aceh Utara @ Editor:ZulSyarif

 

 

 

Comments

comments