5 Juli 2019
redaksi pelita 8 (3107 articles)

Fair Finance Asia desak para pemimpin G20 agar mempromosikan sektor keuangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab

PELITA8.COM – OSAKA – Dalam ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berawal di Osaka pada Tanggal 1 Juli 2019, Fair Finance Asia (jaringan regional yang terdiri atas berbagai organisasi masyarakat sipil di Asia) mendesak G20 agar memperkuat kepemimpinan dan aksinya dalam menerapkan sektor keuangan yang melestarikan lingkungan serta industri investasi yang bertanggung jawab.

Sejalan dengan rekomendasi kebijakan Civil 20 (C20) yang diajukan kepada para pemimpin G20 pada April tahun ini, Fair Finance Asia (FFA) mendesak para pemimpin negara-negara tersebut untuk meningkatkan berbagai kebijakan dan regulasi, serta memperkuat sejumlah investasi bermutu lewat cara-cara yang menanggulangi perubahan iklim, sehingga membantu terwujudnya Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) serta pembangunan ekonomi inklusif, dan mempromosikan hak asasi manusia bagi semua orang.

Negara-negara G20 juga didorong untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap Prinsip-Prinsip Panduan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia, serta mempromosikan uji tuntas dan transparansi dalam rantai industri keuangan dunia.

Saat pembangunan infrastruktur menjadi prioritas global yang penting, Fair Finance Asia menerima dukungan dari kalangan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 dalam Komunike tentang Prinsip-Prinsip G20 pada Investasi Infrastruktur yang Bermutu pada Juni lalu. Komunike ini menjadi arahan strategis bersama. FFA mengupayakan komitmen dan aksi dari negara-negara G20 agar mereka mengarahkan kondisi kebijakan dunia yang mewajibkan kalangan lembaga keuangan untuk segera mengakhiri dukungannya terhadap pendanaan batubara.

Kemampuan Jepang dalam menjembatani Prinsip-Prinsip G20 pada Investasi Infrastruktur yang Bermutu, mencakup isu-isu penting seperti kesinambungan utang, pelestarian masyarakat dan lingkungan hidup, serta tata kelola yang lebih kuat, memperoleh banyak pujian. Namun, kita perlu juga memperhatikan, di bawah kepresidenan Jepang, Sustainable Finance Study Group (SFSG) telah dibubarkan. Upaya SFSG berfokus pada sektor keuangan yang aman bagi lingkungan (green finance) dan beberapa topik pelestarian lingkungan lain, seperti penciptaan lapangan pekerjaan dan kesetaraan penghasilan. FFA mendesak agar SFSG kembali diaktifkan, dan kerja sama antara sejumlah pihak berwenang dan pengambil kebijakan dalam sektor keuangan di negara-negara G20 dapat diperkuat, guna mengatasi berbagai tantangan sosial dan lingkungan hidup di masyarakat.

Bernadette Victorio, Regional Program Lead, Fair Finance Asia menyatakan, “Kami sangat ingin menyaksikan sejumlah komitmen tingkat tinggi ini berubah menjadi aksi-aksi nyata di jenjang regional dan nasional. Kalangan regulator dan otoritas industri keuangan di seluruh dunia harus bekerja sama untuk menjalankan berbagai inisiatif serta kebijakan di sektor keuangan yang melestarikan lingkungan demi mewujudkan dampak-dampak sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang positif serta komprehensif. Kami mendesak para pemimpin G20 supaya mempromosikan sektor keuangan yang tak merusak lingkungan dan industri investasi yang bertanggung jawab. Dengan demikian, sektor swasta dapat didorong untuk memasukkan sejumlah pertimbangan lingkungan hidup dan sosial ke dalam kegiatan bisnisnya.”

Yuki Tanabe, Program Director, Japan Center for a Sustainable Environment and Society (JACSES), juga menjadi bagian dari Fair Finance Japan, berkata, “Para pemimpin G20 perlu dengan segera mengambil sejumlah langkah untuk mempromosikan sektor keuangan yang aman bagi lingkungan. Pendanaan G20 bagi sektor infrastruktur harus sejalan dengan tujuan Kesepakatan Paris, dan G20 harus mengakhiri pendanaan publik untuk proyek baru pembangkit listrik bertenaga batubara sebagai langkah pertama.”

Sumber :Bernadette Victorio Regional Program Lead Fair Finance Asia

Comments

comments

makan jeruk