Salbiah H25 Unimal

Cerita  Sabariah Digubuk Derita

Salbiah H25 Unimal

Rumah itu terlihat kusam. Dinding papan dengan atap seng usang itu sudah dimakan usia. Jika dilihat dari dalam rumah banyak sekali lobang-lobang besar yang sudah menganga apalagi kala melihat penahan angin, cahaya matahari masuk hingga menyilaukan seisi rumah.

Rumah ukuran kecil itu tidak mempunyai lantai semen. Didalam hanya tampak kayu-kayu yang ditempel di setiap sudut rumah untuk menutupi masuknya angin malam. Sementara tempat tidurnya hanya terbuat dari bambu beralaskan tikar.Sedihnya lagi, biasanya rumah-rumah orang ditopang oleh kayu merbo dengan kualitas terbaik tapi sayangnya rumah itu hanya ditopang oleh kayu-kayu lusuh dan juga batang bambu yang ditancapkan agar tidak rubuh di terpa angin.

Rumah itu milik Sabariah, (47), warga Gampong Cot Euntung, Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Rumah itu dihuni bersama putranya Muhammad Mubrari (14) yang masih duduk di bangku kelas II SMP.  Rumah itu barangkali lebih pantas disebut “geurupoh”.

 

Salbiah H25 Unimal

Saat ditemui di kediamannya, Sabariah mengaku selama bertahun-tahun bersama anaknya tinggal di rumah tersebut. Ibu Sabariah yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani tak mampu membangun rumah layak huni seperti warga pada umumnya.

“Ya, beginilah kondisi gubuk kami, sekedar untuk berteduh dari teriknya matahari dan dinginnya hujan. Sebenarnya kami takut akan datangnya hujan, angin kencang yang bisa saja merobohkan rumah kami,” kata Sabariah sambil mengupas buah pinang yang diupahkan warga lain kepadanya beberapa hari lalu.

Sabariah menyebutkan sehari-hari pendapatannya itu hanya cukup untuk makan saja. Kata dia, itu pun sudah sangat bersyukur.

“Pendapatan saya sehari – hari hanya cukup untuk makan saja, itu saja sudah sukur ada, jika pemerintah mau membantu rumah untuk kami, saya sangat bersyukur,” ungkapnya

Sabariah juga mengaku sedih karena tidak mendapatkan bantuan rumah dari pemerintah setempat.

Salbiah H25 Unimal

Tidak pernahnya mendapatkan bantuan dari pemerintah membuat kehidupan Sabariah semakin sulit. Padahal, Pemkab Aceh Utara setiap tahun mengalokasikan dana melalui dinas terkait dan Baitul Mal untuk pembangunan rumah duafa. Sayangnya program tersebut belum menyentuh masyarakat pedalaman. Untuk siapa rumah selama ini di bangun?

Penulis: Chandra Eldy / Salbiah H25 Unimal
Editor : M. SIkumbang