9 Juli 2019
redaksi pelita 8 (3107 articles)

Cek Mad, Resmikan Museum Islam Samudra Pasai

ACEH UTARA – Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib akrab disapa Cek Mad meresmikan Museum Islam Samudra Pasai di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Selasa (9/7/2019).

Peresmian museum yang dilakukan dengan prosesi gunting pita oleh Cek Mad, didampingi Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf (Sidom Peng), Sekda Aceh Utara Abdul Aziz, Kepala
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara Saifullah dan sekaligus menandatangani prasasti peresmian Museum Islam Samudra Pasai.

Selain itu juga dihadiri dan disaksikan Center of Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah), Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), perwakilan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Jakarta, unsur Forkopimda, mahasiswa, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Bupati Aceh Utara Cek Mad mengatakan, nama museum ini diambil dari nama Kerajaan Islam pertama di Nusantara yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, tepatnya di wilayah Kabupaten Aceh Utara yaitu Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu yang bergelar Sultan Malik Ash-Shalih pada Abad XIII Masehi. Keberadaan Kerajaan ini juga tercantum dalam Kitab Rihlah ila i-Masyriq yang mengisahkan perjalanan Ibnu Batutah seorang penjelajah dunia ternama yang pernah beberapa kali singgah ke kerajaan ini.

Beberapa penjelahah dunia lainnya seperti Marcopolo, Laksamana Cheng Ho dan Tome Peres juga pernah menulis tentang kekaguman mereka terhadap Kerajaan Samudera Pasai. Generasi bangsa ini perlu mengetahui jejak perjalanan hidup dan perjuangan pendahulu serta memahami semangat, tantangan dan kontribusinya kepada bangsa dan negara ini. Museum ini hadir sebagai sarana layanan yang mampu memberi edukasi kepada masyarakat serta menjadi wadah penelitian dan kajian sejarah Islam di Nusantara. Koleksi-koleksi yang ada di museum ini merupakan peninggalan Arkeologis Samudra Pasai.

“Dengan peresmian museum ini kami mengharapkan kepada dinas terkait (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), serta para pegagas sejarah agar museum itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk ke depan bahwa infrastruktur jalan menuju Museum Islam Samudra Pasai perlu dibenahi, supaya ketika ada tamu dari luar untuk mengunjungi museum bisa dilalui dengan nyaman. Saya harapkan kepada dinas terkait agar jalan menuju ke situs sejarah ini bisa terbuka lebar dengan dilakukan pengaspalan jalan nantinya,” kata Cek Mad, dalam sambutan peresmian Museum Samudra Pasai, Selasa.

Menurut Cek Mad, karena situs sejarah itu merupakan bukan milik pemerintah atau suatu kelompok, itu adalah milik bangsa. Karena majunya bangsa ini dengan adanya budaya atau sejarah-sejarah, oleh karena itu harus dilestarikan secara bersama-sama.

“Bagaimana caranya ke depan, ketika ada tamu dari luar daerah yang hendak mengunjungi museum ini bisa terlayani dengan bagus. Karena banyak tamu atau wisatawan untuk melihat situs sejarah Samudra Pasai, maka dengan disediakan fasilitas sesuai keperluan tentunya museum ini akan banyak warga yang ingin berkunjung,” ujar Cek Mad.

Cek Mad menambahkan, perawatan untuk Museum Samudra Pasai itu harus dilakukan secara maksimal. “Jangankan orang lain, kita sendiri tidak pernah menghargai apa arti situs sejarah ini. Maka sebelum kita membuka akses jalan dan lainnya untuk umum, perlu dilakukan pengaturan tata kola secara terstruktur dengan baik supaya lebih terarah,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara Saifullah mengatakan, pihaknya ke depan akan melakukan pembenahan museum supaya lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas tentang situs sejarah Samudera Pasai.

Dengan peresmian museum tersebut, lanjut Saifullah, pihaknya bersama masyarakat bisa bekerja sama untuk saling menjaga situs sejarah Samudra Pasai. Untuk itu pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat jika memang ada barang-barang bersejarah bisa dititipkan di Museum Samudra Pasai dan akan dijaga dengan baik agar dapat ditunjukkan kepada para wisatawan yang berkunjung.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara Nurliana mengatakan, sejauh ini koleksi benda bersejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai ada sekitar 340 yang terbagi dalam empat kelompok, yakni filologika, etnografika, numismatika dan historika.

“Untuk penambahan koleksi ke depan bahwa kita selalu memberi kesempatan kepada masyarakat atau bagi peneliti sejarah siapa saja yang memiliki benda-benda yang dikategorikan peninggalan arkeologis, bisa dikoordinasikan dengan kita. Kalau betul dan terbukti barang peninggalan sejarah sebagaimana yang dimaksudkan maka kita akan ganti rugi kepada pihak bersangkutan, karena membeli barang koleksi sejarah itu tidak dibolehkan, itu aturannya,” pungkas Nurliana. [RM]

Comments

comments

makan jeruk