Buya Hamka (Foto: muniruddin.com

Buya Hamka, Sang Otodidak dari Ranah Minang

Buya Hamka (Foto: muniruddin.com
Buya Hamka (Foto: muniruddin.com)
“Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong . Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Kedua, tidak pelupa akan kebohongan yang diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran “       (Buya Hamka)
“Seseorang tidak shalat Jum’at, ditanya temanya, “tadi shalat  Jum’at di mana? karena malu  dia  menjawab, “Di Masjid Agung”. Temanya bertanya lagi “di lantai mana kamu shalat?’  Di lantai bawah jawabnya, bertambah satu kebohongan, ‘Saya juga di lantai bawah, kok tidak ketemu?’ Dengan mantap pembohong tadi menjawab, ’Saya di saf paling belakang.  Coba kau hitung, Irfan! untuk melindungi kebohongannya, berapa kali dia harus berbohong?”  pesan  Buya Hamka kepada anaknya.

BUYA HAMKA,  Nama besar yang tersohor dari Asia hingga ke Timur Tengah ini bukan hanya dikenal sebagai ulama, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, dan pemimpin masyarakat. Karena ketokohan dan pengabdiannya pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya pada tahun 2011.

Dilahirkan 17 Februari 1908 di kampung Molek, Minagkabau Sumatra Barat dari pasangan DR.H. Abdul Malik Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Siti Safiyah Binti Gelanggar yang bergelar Bagindo Nan Batuah.  Ayahnya dikenal sebagai ulama pelopor gerakan Islah (Tajdid) di Minagkabau juga salah satu tokoh utama gerakan pembahuruan yang membawa reformasi kaum muda Islam.

Hamka adalah singkatan (akronim) dari nama ayahnya “ Haji Abdul Malik Karim  Abdullah” , sedangkan Buya adalah panggilan kehormatan di minangkabau.

Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas dua sekolah dasar di Maninjau, di usia 10 tahun ia menimba ilmu agama di sumatera Thawalib padang panjang , sekolah islam yang didirikan oleh ayahnya pada 1906. Ia juga menambah wawasannya di surau dan mesjid dari ulama terkenal seperti, Syech Ibrahim Musa, Syech Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M Surjopranoto dan Ki Bagus Hadi Kusumo.

Tahun 1924 Hamka merantau ke pulau Jawa, ia belajar tentang gerakan Islam pada HOS Cokro Aminoto, Haji Fachrudin, juga pada Rasyid Sultan Mansur iparnya sendiri. 1927 Berbekal ilmu agama tersebut, Hamka memulai karirnya sebagai guru agama di perkebuanan Tebing Tinggi Sumatera Utara, dua tahun kemudian dia kembali ke Padang dan mendirikan madrasah Mubalighin.

Bukan hanya ilmu agama, secara otodidak Hamka juga menguasai Filsafat, Sastra, Sejarah dan Sosiologi .  Sejak awal 20-an, Hamka sudah menjadi penulis, editor dan penerbit, tercatat ssebagai wartawan di Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.

Bersama dengan KH.Fakih Usman Mentri agama (Kabinet Wilopo 1952)  Hamka mendirikan majalah Panji Masyarakat (tahun 1959). Majalah ini kemudian dibredel pada 17 agustus 1960 karena memuat tulisan Muhammad Hatta  “ Demokrasi Kita” yang mengkritik tajam konsep demokrasi terpimpin, majalah ini kembali terbit setelah orde lama tumbang. sekitar tahun 1967 Hamka menjadi pemimpin umum majalah tersebut. Sebelumnya menjadi editor di majalah Pedoman Masyarakat, tahun 1928-1932 dan editor sekaligus penerbit di dua majalah yang berbeda yaitu majalah Kemajuan Masyarakat dan majalah Al Mahdi di Makassar.

Kiprahnya di dunia politik dimulai tahun 1925 dengan bergabung menjadi anggota Syarikat Islam, diwaktu yang bersamaan ikut mendirikan Muhammadiyah untuk menentang kurafat, bid’ah dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Selanjutnya terlibat dalam kepengurusan organisasi islam dari tahun 1928 – 1953.  Tahun 1931 ia menjadi konsul Muhamamdiyah di Makasar.

Tahun 1945 Hamka kembali ke kampung halamannya  Sumatera Barat, disana ia mulai menulis buku, adapun buku yang ditulisnya Khatibul Ummah, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau menghadapi Revolusi, Negara Islam, Sesudah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Dari Lembah Cita-Cita, Merdeka, Islam dan Demokrasi, ilamun Ombak Masyarakat, dan menunggu Beduk berbunyi.

Saat revolusi Hamka juga turut berjuang mengusir penjajah, lewat pidatonya ia mengobarkan semangat para pejuang merebut kedaulatan negara. Hamka juga menentang kembalinya Belanda ke Indonesia dengan bergerilya di hutan Sumatera utara.  Pada tahun 1947, Hamka menjabat sebagai ketua barisan pertahanan nasional yang beranggotakan Chatib Sulaiman, udin rangkayo, Rasuna Said, dan Karim Halim, ia juga mendapat mandat  wakil presiden Muhammad Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional.

Tahun 1955 Hamka tercatat sebagai anggota konstituante Majelis Syuro Muslim Indoensia (Masyumi) meskipun kemudian organisasinya dibubarkan oleh Soekarno pada tahun 1960.

“kursi-kursi banyak dan orang yang ingin pun banyak, tapi kursiku adlah buatnku sendiri” ungkap Hamka yang dikutip dari laman Republika.co.id

Hamka kembali ke duni pendidikan pada tahun 1957, setelah resmi menajdi dosen di Universitas islam jakarta dan muhammadiyah padang panjang selanjutnya menjadi rektor di perguruan tinggi Jakarta, diangkat menajdi guru besar di universitas Moestopo Jakarta dan Universitas islam Yogyakarta.

Menjelang tumbangnya rezim orde lama Hamka sempat mendekam di penjara akrena di tuduh Pro Malaysia, keluar dari penjara ia menghasilkan karya fenomenal tafsir Al azhar. Sejarah juga mencatat Hamka sebagai sastrawan cerdas, ia mendalami karya ulama dan pujangga timur tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas Al Aqqad, Mustafa Al Manfalutti dan Husein Haikal. Ia juga meneliti karya sarjana Barat seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, jeanpaul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Lotti.

Tak hanya piawai menghasilkan karya yang bernafaskan Islam, Hamka juga produktif menghasilkan karya sastra kreatif yang  dijadikan  buku teks sastra di Malayasia dan singapura diantarnya tenggelamnya kapal Van der Wickj, merantau ke deli, dibawah lindungan ka’bah.

Tak heran jika kemudian ia memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Kebangsaan malayasia melalui perda mentrinya  Tun Abdul Razak.

Ia juga sangat pemaaf meski pernah dipenjarakan di Era Rezim Soekarno namun   saat sang Proklamator itu wafat pada tahun 1970 Hamka menjadi imam shalat jenazahnya.

Tahun 1977, Hamka menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), fatwanya yang paling kontroversial adalah melarang  umat islam mengikuti perayaan agama lain tak terkecuali pemerintah. Karena dipaksa mencabut fatwa ini, tahun 1980 Hamka memilih mundur dari jabatan ketua MUI.

Hamka menghadap sang khalik di usia 73 tahun, ia menutup mata pada hari jum’at 24 Juli 1981, jenazahnya dimakamkan di tanah kusir Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jakarta.

Atas jasa-jasanya pada negara Presiden Soeharto menganugerahkan bintang mahaputera utama pada tahun 1993, selanjutnya Presiden SBY memberi gelar pahlawan nasional pada tahun 2011.

(sumber : www.tokohindonesia.com, bio.or.id. www.senggang.republika.go.id)