15 Mei 2019
redaksi pelita 8 (3045 articles)

Bea Cukai Musnahkan 70 Ton Bawang Merah Asal Thailand dan Malaysia

LHOKSEUMAWE – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Kota Lhokseumawe memusnahkan 70 ton bawang merah yang tidak memiliki legalitas hukum serta melanggar ketentuan karantina wilayah Indonesia, di Bulog Punteut, Kota Lhokseumawe, Rabu, 15 Mei 2019 secara simbolis.

Setelah itu, bawang tersebut dibawa menggunakan dump truk menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, untuk dimusnahkan dengan cara ditimbun. Bawang impor ilegal asal Thailand itu merupakan hasil sitaan dari patroli yang ditemukan di perairan Jambo Aye pada 15 April 2019, lalu.

Kepala Kantor Bea Cukai Lhokseumawe, Suparyanto, mengatakan, pihaknya memusnahkan sebanyak 70 ton bawang merah impor ilegal asal Thailand. Ini merupakan hasil penindakan yang ditemukan dari dua unit kapal yakni eks KM. Sinar Rahmat Laot GT. 25 No. 3105/PPf dan eks KM. Samudra Al-Mubarakah GT. 45 No. 1385/PPf.

“Ada dua orang tersangka yang sudah dititipkan di Lapas Kelas II A Lhokseumawe, keduanya berinisial M dan SY warga Aceh Timur yang merupakan sebagai penanggung jawab nahkoda atas muatan bawang ilegal yang ada di dalam kapal tersebut. Jadi, sepertinya masih banyak masuk barang atau bawang ilegal dari Thailand untuk memasok kebutuhan di Provinsi Aceh,” kata Suparyanto, kepada wartawan, Selasa.

Ia menambahkan, hasil uji laboratorium bahwa bawang itu memang sudah tidak layak untuk dikonsumsi karena sudah rusak atau busuk. Untuk itu, kata Suparyanto, tentu pihaknya selalu berkoordinasi dengan pihak Lanal Lhokseumawe, Polairud, serta membuka ruang penyampaian informasi dari masyarakat apabila adanya terjadi penyundulupan yang sama di kemudian hari.

“Bawang merah ilegal ini sebelum dimusnahkan itu dititipkan sementara di Gudang Bulog Lhokseumawe sekitar satu bulan lalu, karena keterbatasan ruang di Kantor Bea dan Cukai,” ujar Suparyanto.

Suparyanto merincikan, bawang merah ilegal impor tersebut masing-masing sebanyak 1.748 karung berukuran 20 kilogram, dan 3.872 karung ukuran 10 kilogram. Barang impor itu tanpa dilengkapi dengan dokumen kepabaenan,
untuk kerugian yang ditimbulkan berupa kerugian materil dan imateril.

“Kerugian materil berupa potensi penerimaan negara yang tidak tertagih dari bea masuk, pajak dalam rangka impor dan cukai yaitu sebesar Rp713.924.763. Sedangkan kerugian imateril yang ditimbulkan apabila bawang merah impor ilegal yang tidak melalui proses tindakan karantina ini beredar adalah membahayakan kesehatan konsumen, dapat menyebarkan virus atau bibit penyakit juga dapat mengganggu kelangsungan produksi oleh petani bawang merah di dalam negeri,” ungkap
Suparyanto.

Menurut Suparyanto, tindakan pidana itu melanggar Pasal 102 huruf a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat satu tahun, dan paling lama 10 tahun. (red)

Comments

comments