19 Agustus 2019
redaksi pelita 8 (3292 articles)

Bank Indonesia Luncurkan Standar QR Code Pembayaran Nggak Perlu Ribet

LHOKSEUMAWE – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe menggelar media briefing memaparkan tentang Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), di KPw BI Lhokseumawe, Senin (19/8/2019).

Lauching QRIS unggul secara nasional telah dilakukan dalam rangka HUT ke-74 RI, juga digelar di Kantor BI Lhokseumawe, 17 Agustus 2019.

Kepala KPw BI Lhokseumawe Yufrizal didampingi Kepala Tim KPw BI Achmad Jainuri dan Kepala Unit Sistem Pembayaran KPw BI Lhokseumawe Durma Jaya menjelaskan, QRIS itu merupakan standar QR code yang ditetapkan BI dan berlaku secara nasional. Dengan berlakunya QR code tersebut, tidak ada lagi QR code lain yang boleh digunakan di Indonesia selain QRIS.

Adapun QR code yang diberlakukan di Indonesia merupakan QR code yang berjenis Merchant Presented Mode (MPM) atau Push Payment. Mekanisme dari MPM di mana merchant atau penjual barang/jasa yang menampilkan QR code dan konsumen melakukan scan QR code untuk melakukan pembayaran.

“Tujuan dari adanya QRIS untuk memperlancar sistem pembayaran nontunai di Indonesia yang bisa dilakukan secara aman dan lancar. Mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia maju.

Oleh karena itu, QRIS ini dinamai unggul dan tidak hanya ingin Indonesia unggul di dalam era ekonomi keuangan digital, namun juga benar-benar unggul yaitu universal, gampang, untung dan langsung,” kata Yufrizal.

Yufrizal menyebutkan, universal artinya inklusif, dapat digunakan seluruh masyarakat khususnya masyarakat kecil untuk memperlancar pembayaran retail.

“Bisa dikatakan QRIS ini berguna mendorong ekonomi keuangan digital untuk kalangan kecil seperti pedagang sayur, bakso, mi dan sebagainya. Karena di mana saja baik di pasar tradisional maupun pasar modern dapat menggunakan QRIS,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Yufrizal, universal artinya transaksi bisa dilakukan secara cross border atau lintas negara di negara ASEAN apabila memiliki standar yang sama. “Yaitu standar internasional EMVCo. Karena dengan QRIS ini dapat dibedakan berdasarkan codenya, mana transaksi domestik dan mana transaksi cross border,” papar Yufrizal.

Dia melanjutkan “Unggul QRIS dari istilah gampang maknanya adalah pembayaran semakin gampang, karena bisa dilakukan melalui smartphone masing-masing. Hanya dengan tapping, transaksi langsung terjadi dan diproses pembayarannya baik melalui uang elektronik, mobile banking (debit) atau dengan kartu kredit dengan syarat saldo cukup.

Tetapi batas transaksi hanya berjumlah Rp2 juta pertransaksi untuk uang elektronik (UE). Sedangkan untuk transaksi menggunakan debit, batas transaksi sesuai dengan batas transaksi yang ditetapkan oleh bank penerbit kartu”.

“Untung artinya, lebih efisien karena satu QR bisa untuk semua aplikasi. Selain itu, tidak ada biaya yang ditanggung konsumen dalam melakukan pembayaran melalui QRIS tersebut. Kemudian istilah ‘langsung’, itu artinya proses transaksi cepat dan dana berpindah seketika atau real time. Baik langsung ke rekening UE ataupun langsung masuk ke rekening sesuai dengan metode pembayaran yang dipilih UE, debit, kredit.

Maka dengan adanya QRIS unggul, semua transaksi menggunakan QR code wajib menggunakan QRIS, bagi penyelenggara jasa sistem pembayaran yang belum menggunakan QRIS akan diberikan waktu sampai 31 Desember 2019 untuk melakukan penyesuaian dan wajib menggunakan QRIS sejak 1 Januari 2020,” kata Yufrizal.

Oleh karenanya, Yufrizal berharap adanya QRIS ini ke depannya dalam melakukan transaksi semua masyarakat melakukan pembayaran dilakukan secara nontunai dengan menggunakan QRIS terutama generasi milenial.

“Kami mengajak semua generasi milenial untuk mendukung QRIS unggul, di mana saja dan kapan saja dengan melakukan transaksi melalui QRIS. Semoga menjadi keberkahan kita dan menjadi pertanda Indonesia menjadi negara yang maju, modern dan inklusif,” ungkap Yufrizal

Menurut Yufrizal, dalam waktu dekat BI akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan tentunya juga dikoordinasi dengan pelaku usaha, supaya dampaknya lebih optimal. Jadi pelaku usaha maupun masyarakat dapat menggunakan QR code dengan scan melalui smartphone dari aplikasi digital. “Tentunya ini menyatukan sistem keamanan, karena tidak lagi sendiri-sendiri”.

“Akan tetapi sosialisasi dilakukan tidak hanya bagi pelaku usaha, juga kepada seluruh elemen masyarakat di wilayah kerja BI Lhokseumawe yang akan dilaksanakan secara bertahap. Kita ke depan akan melibatkan institusi keagamanaan, juga seperti rumah-rumah ibadah supaya jamaah atau masyarakat bisa melakukan transaksi berupa infak dan sedekah melalui aplikasi digital tersebut,” pungkas Yufrizal. [RM]

Comments

comments

makan jeruk