21 Oktober 2016
redaksi pelita 8 (2860 articles)

Anggota DPR RI: Kasus Nanda Feriana; Jika Laporan Tidak Benar, Bisa Dilaporkan Balik Dosen Lulusan Jerman

LHOKSEUMAWE – Anggota DPR RI yang juga putra asli Aceh Tenggara (Agara), menanggapi kasus Nanda Feriana mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara, dinilai bahwa Nanda tidak perlu melakukan minta maaf kepada dosen yang lulusan Jerman tersebut.

Hal itu dikatakan oleh Anggota DPR RI Komisi III, Muslim Ayub, jika memang itu permasalahannya, maka Nanda Feriana tidak perlu minta maaf, untuk itu sama-sama menghadapinya.

“Atau kita lapor dosen tersebut, karena menurut saya pencemaran nama baiknya tidak memenuhi unsur-unsur apa yang dilaporkan, kalau menurut saya sebaiknya  Nanda laporkan dosen itu ke penyidik Polres Lhokseumawe, karena sudah membuat perasaan Nanda tidak menyenangkan,” kata Muslim Ayub, dalam pesan Whatsapp yang diterima Pelita8.com, Jumat  (21/10).

Menurut Muslim Ayub, karena upaya dan mediasi sudah dilakukan oleh Nanda. “Menurut saya hal ini tidak perlu dilakukan, tapi Nanda merasa takut karena dosen bisa berimplikasi terhadap kebijakannya. Akan tetapi Nanda tidak usah takut, kita terus mengikuti kasus ini,” ungkapnya.

Lanjutnya, diharapkan kasus Nanda Feriana ini muda-mudahan berakhir dengan baik, disamping itu juga pihak penyidik polres setempat harus hati-hati menempatkan seseorang pada kasus yang sebenarnya. “Kita yakin pihak kepolisian bijak menangani kasus ini,” ungkap Muslim Ayub.

Sementara itu, Dwi Fitri, mengaku apa yang dia lakukan ini untuk mendapatkan hak-haknya di depan hukum. Selain itu, untuk meredam konflik yang lebih besar terjadi di kampus negeri di Lhokseumawe ini.

“Saya sebagai warga negara, punya hak untuk mendapatkan hukum. Jadi sekarang persoalan ini antara saya dan Nanda, dan ini biar bisa menjadi contoh untuk ribuan mahasiswa lain, jadi saya tidak serta merta saya laporkan ke polisi,” kata Dwi Fitri saat merdeka.com hubungi via telepon genggamnya.

Dwi Fitri tak menampik pernah dilakukan mediasi. Akan tetapi, proses mediasi itu gagal, karena Nanda tidak mau menerima permintaannya untuk meminta maaf di media cetak.

“Sebenarnya saya mau memaafkan, tetapi saya minta permintaan maaf itu dipasang di media cetak, tetapi Nanda bilang ini akan merusak kredibilitas dirinya, jadi dia tidak mau. Gagal karena karena mediasi apa yang dia mau, bukan seperti saya mau, bukan mediasi itu namanya,” sebut Dwi Fitri.

Bahkan, sebut Dwi, sebelum ini menjadi viral di media sosial. Dwi mengaku sudah pernah menunggu seharian penuh di ruangnya. “Tetapi Nanda tidak mau jumpa, tidak berani dia datang. Makanya saya laporkan, untuk meredam konflik lebih besar lagi. Dia tidak diluluskan yudisium karena tidak lengkap berkas, meskipun saya kecewa dia kemudian diluluskan yudisium,” tegasnya.

Penulis : Zielva

 

Comments

comments