2 April 2018
redaksi pelita 8 (2814 articles)

Aceh Perlu Segera Mendirikan ‘Techno Park’

BANDA ACEH – Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Ibrahim Qamarius, menilai Pemerintah Aceh perlu segera mendirikan sebuah taman sains dan teknologi atau “techno park”. Ini untuk mengatasi persoalan pengangguran, meningkatkan daya saing daerah, dan mendorong tumbuhnya budaya inovasi di Aceh.

“Dengan nama Aceh Techno Park, misalnya. Aceh Techno Park yang didirikan nantinya merupakan kawasan terpadu yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata  Ibrahim Qamarius dalam Focus Group Discussion (FGD) “Pengembangan Industri Kreatif” dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun 2019, dilaksanakan Bappeda Aceh, di Banda Aceh, Senin, 2 April 2018.

Ibrahim Qamarius menjelaskan, Aceh Techno Park diharapkan menjadi pusat vokasi dan inovasi teknologi, serta pusat riset teknologi terapan di Aceh, dibangun dengan kerja sama antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah yang terintegrasi. Selain itu, perlu juga melibatkan berbagai media dan komunitas masyarakat.

“Pada tahap awal program Aceh Techno Park meliputi pelatihan dan pendidikan, konsultasi, serta produksi dan pemasaran,” ujar Ibrahim Qamarius.

Ide pendirian techno park tersebut didukung oleh Kepala UPT Kewirausahaan Unsyiah, Dr. Hanafi dan peserta FGD lainnya. Mereka sepakat agar Pemerintah Aceh perlu mendorong pendirian techno park, sebagai implementasi dari program Presiden Joko Widodo yang berencana menggagas pembangunan 100 techno park di seluruh Indonesia.

Dalam FGD tersebut juga berkembang berbagai ide dan masukan dari peserta. Di antaranya, perlu pemetaan secara konkret industri kreatif, kerja sama lintas sektoral, dan evaluasi terhadap berbagai kendala yang terjadi sebelumnya.

Rektor Unimal, Prof. Apridar menyampaikan apresiasi atas pelibatan perguruan tinggi dalam FGD “Pengembangan Industri Kreatif” dalam rangka penyusunan RKPA Tahun 2019. Kerja sama berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal dalam pengembangan industri kreatif di Aceh.

Peserta FGD diundang oleh Bappeda Aceh antara lain Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Aceh, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh, UPT Kewirausahaan Unsyiah, Inkubator Bisnis Unimal, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Aceh dan 10 pelaku industri kreatif. (*)

Comments

comments